Unhappy Search of Wisdom | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Unhappy Search of Wisdom

Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Reformed Exodus Community 
09 Maret 2025


Lanjutan dari khotbah eksposisi Perjanjian Lama.
Filsafat adalah mempertanyakan segala sesuatu. 
Awal dari segala pengetahuan adalah menyadari bahwa kita tidak mengetahui apa-apa.

Francis Bacon dalam Novum Organum terkenal dengan kalimatnya "knowledge is power". Bacon memiliki pemahaman yang berbeda dengan Aristoteles yang analitis dan kritis namun tidak empiris. Bacon menggunakan metode empiris dan obsetvatif/ eksperimental untuk menambah dan memperbaiki kehidupan manusia.

Knowledge is power yang dimaksudkan oleh Bacon adalah semakin pengetahuan manusia bertambah, maka kualitas hidup manusia semakin bertambah. Namun apakah benar demikian? Tidak. The world is not getting better in many things. Dari dulu sampai sekarang, manusia masih belum bisa menyelesaikan tiga persoalan fundamental yaitu kejahatan, penderitaan, dan kematian. Manusia masih belum bisa menciptakan dunia yang lebih baik. 

Pengkhotbah 1:12-18
1:12 Aku, Pengkhotbah,  adalah raja atas Israel di Yerusalem.  1:13 Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit.  Itu pekerjaan yang menyusahkan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan diri. 1:14 Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.  1:15 Yang bongkok tak dapat diluruskan,  dan yang tidak ada tak dapat dihitung. 1:16 Aku berkata dalam hati: "Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari pada semua orang yang memerintah atas Yerusalem sebelum aku,  dan hatiku telah memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan." 1:17 Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat s  dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan.  Tetapi aku menyadari bahwa hal inipun adalah usaha menjaring angin, 1:18 karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati,  dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan. 

Pengkhotbah: Raja yang Berhikmat 
Ayat 1: Kohelet, lebih tepat diterjemahkan bukan pengkhotbah, tetapi pengajar. Kohelet tidak selalu identik dengan Salomo. Kohelet meletakkan dirinya sebagai Salomo, karena tidak ada raja lain yang lebih berhikmat daripada Salomo. Salomo adalah anak Raja Daud yang sangat berhikmat. Salomo tidak minta kekayaan, ketenaran, atau hal selain hikmat. Salomo sangat berhikmat karena hikmat itu adalah pemberian dari Allah. 

Pemberian dari Allah
1 Raja-raja 3:5-14 3:5 Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." 3:6 Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia,  benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini. 3:7 Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. 3:8 Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. 3:9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" 3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian. 3:11 Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, 3:12 maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau. 3:13 Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja. 3:14 Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu."

Optimalisasi Pemberian Allah
Kohelet / Salomo memberikan hati dan waktunya untuk menyelidiki dan mencari hikmat, bukan hanya menerima hikmat tetapi mengoptimalkan/ menambah/ mencari hikmat, dengan "membulatkan hatiku"  (Pkh 1:13-16, 17) = lit. "memberikan hatiku" (KJV/YLT) --> "I devoted myself", NASB "set my mind
- "aku telah memperbesar dan menambah hikmat daripada semua orang". Banyak orang menerima talenta dari Allah tetapi tidak mengoptimalkan dan mengembangkan talenta yang diberikan untuk kemuliaan Tuhan. Apakah Salomo menjadi orang yang berbahagia dengan mencari hikmat? Tidak, justru ada kesusahan yang dialami dalam mencari hikmat. 

Kesusahan #1: menyelidiki segala sesuatu melalui hikmat
Pengkhotbah 1:13-14: "Aku membulatkan hatiku untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit. Itu pekerjaan yang menyusahkan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan diri. Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin".

Salomo menganggap menyelidiki hikmat adalah "pekerjaan yang menyusahkan" (lit. "tugas yang buruk/ jahat). Maksud 'buruk' di sini dalam bahasa Yunani berarti tidak membawa kesenangan, mayoritas versi (RSV, NRSV, ESV) menerjemahkan sebagai "unhappy business", NASB "grievious task", KJV "sore travail". Menyelidiki sesuatu melalui hikmat adalah sesuatu yang tidak membawa kebahagiaan. Seringkali kita bersusah payah untuk memperoleh kebahagiaan, tetapi begitu kita mencapainya ternyata hanya sesaat saja kita merasa puas dan bahagia, kemudian mencari lagi kebahagiaan yang lebih memuaskan lagi. Ini berarti bahwa sebetulnya kita bersusah payah, menyibukkan diri. Bahasa Ibrani bukan "untuk melelahkan diri" tetapi "menyibukkan diri" (5:20 - Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya). Allah memang menghendaki kita untuk menyadari dan memikirkan apa yang terjadi di muka bumi, itulah sebabnya Dia menciptakan kita sebagai rational being. 

Menyelidiki segala sesuatu melalui hikmat tidak selalu salah, karena usaha ini bermula dari Allah. Yang salah adalah mengharapkan kebahagiaan dari usaha yang dilakukan. -Yakub Tri Handoko

Kesusahan #2: memiliki hikmat yang banyak
Ayat 15: "Yang bongkok tak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tak dapat dihitung". Kata bengkok (awat = bengkok) sering berarti negatif (8:3;19:6; 119:76; 146:9, Ratapan 3:36) Semakin kita memahami hidup, semakin kita menyadari bahwa banyak hal yang tidak dapat diselesaikan. Semakin kita tau masalahnya, semakin kita tidak tahu solusinya. Di segala zaman, manusia tidak dapat menyelesaikan tiga persoalan: kejahatan, penderitaan, dan kematian. Manusia hanya tau persoalannya apa, tetapi tidak bisa memberi solusi atau menyelesaikannya. Yang kita ketahui jauh lebih banyak dari yang tidak kita ketahui. Mengetahui persoalan tetapi tidak mampu memberikan jalan keluar lebih menyedihkan daripada tidak mengetahui adanya persoalan. 

Injil Yesus Kristus 
Salomo yang berhikmat telah gagal (1 Raja-raja 11) tetapi kita memiliki Yesus Kristus (Matius 12:42, Lukas 11:3) "sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo". Yesus bukan hanya memiliki hikmat, tetapi menjadi hikmat >> "tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita (1 Korintus 1:30). 

8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, 8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan  dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. 

Kebahagiaan disiapkan Tuhan bagi anak-anakNya bukan di bawah matahari tetapi di atas matahari: not under the sun but abpve the sun, yaitu di langit dan bumi yang baru; not in this world but in another world. Jika tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan fundamental, mengapa tidak mau menerima solusi dari Tuhan?
Firman Tuhan hari ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak peduli seberapa pintar atau berhikmatnya kita, kita tidak bisa menyelesaikan persoalan fundamental di dunia; melainkan hanya Allah di dalam Kristus yang menjadi manusia, mengalahkan maut, mewujudkan ketaatan yang sempurna kepada Bapa dan mengalahkan kejahatan melalui kebaikanNya. 

 

Comments

Popular Posts