Dare to Suffer | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Dare to Suffer
2 Korintus 4:13-15
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
23 Maret 2025


Allah menciptakan kita bukan untuk menderita tetapi untuk memuliakan Dia. Namun setiap kita juga harus siap menghadapi pendirian karena kita hidup dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Penderitaan dan kejahatan seharusnya tidak lagi mengagetkan. What do you expect in this kind of world

Hasil riset para pakar, anak kelahiran 1990 ke atas adalah generasi stroberi
(Milenial, Gen Z, dan Gen Alpha) yang tidak tahan dengan penderitaan. Ini disebabkan oleh pola asuh dalam keluarga yang menjauhkan penderitaan dari anak-anak. Bahkan biasanya orang tua yang membela dan menanggung kesalahan anak. 

2 Korintus 4:11-12 (TB)  Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.
Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 

2 Korintus 4:13-15 (TB) Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: "Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.
Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.
Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah. 

Sebagian besar jemaat Korintus tidak menyukai Rasul Paulus. Banyak tantangan penganiayaan terhadap Paulus, hingga Tuhan mendatangi Paulus dan menguatkan Paulus. Paulus memberikan dirinya dan menderita untuk merengkuh jemaat Korintus. 

Mengapa Paulus berani menghadapi penderitaan?
1. Karena Paulus beriman kepada kuasa Allah (4:13-14): "roh iman" mendahului perkataan. Roh iman berarti Roh Kudus yang menghasilkan iman, tetapi bukan itu maksud Paulus. Roh iman berarti semangat untuk beriman (spirit of faith), adanya kemiripan dengan pemazmur:
- situasi yang sama, yaitu bahaya maut (Mzm 116:3, 2 Kor 4:11-12) 
- mengalami pertolongan TUHAN (Mzm 116:6) 
- kelepasan dari maut bukan berarti kelepasan dari penderitaan (Mzm 116:10) 
- objek yang dikatakan berbeda, yaitu penderitaan vs. Injil Kristus 
- objek iman yang spesifik juga beda: tidak jadi mati vs. akan dibangkitkan (2 Kor 4:14), bukan hanya akan dibangkitkan tetapi juga dibenarkan (2 Kor 4:2). Yang berfokus pada pembenaran Allah di akhir zaman tidak akan terlalu terganggu dengan fitnahan orang. 

2. Karena Paulus menyadari semua proses untuk kemuliaan Allah (4:15): sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu (ayat 15a), maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu (ayat 12). Paulus rela menderita supaya jemaat percaya Injil dan Allah dimuliakan. "Sehingga kasih karunia yang menjadi semakin melimpah (pleonasasa) melalui banyak orang (pleionon) melimpahkan (perisseuse) ucapan syukur untuk kemuliaan Allah" (ayat 15b). Yang terpenting bukan penderitaan kita, melainkan kemuliaan Allah. 

Paulus di Filipi 1: kiranya Allah dimuliakan baik dari hidupku maupun dari matiku. Apapun yang menjadi kemuliaan Allah itulah yang menjadi pilihan kita. Jika penderitaan kita lebih memuliakan Tuhan, mengapa kita selalu memilih kenyamanan? Kadang melepaskan hak kita lebih memuliakan Allah daripada mempertahankannya. 

Iman dan Keberanian Kristus
"Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali" (Yohanes 10:18) 
"Bapa, muliakanlah namamu".
Injil Kristus memberikan jaminan bahwa kita tidak pernah menderita sendirian, dan bahwa penderitaan akan dikalahkan. Jangan mudah mengeluh, karena Yesus telah terlebih dahulu menjalani penderitaan yang lebih berat daripada kita. Apapun penderitaan kita, jangan biarkan itu berlalu tanpa memuliakan Allah. Di tengah penderitaan hendaklah kita tetap bisa bersaksi dan membawa kemuliaan bagi Allah. 
Amin. 








Comments

Popular Posts