Present Suffering, Future Glory | Pdt. Hery Kristanto

Present Suffering, Future Glory
Pdt. Heri Kristanto
Reformed Exodus Community
27 April 2025


Keyakinan di masa depan mempengaruhi cara hidup dan perilaku saat ini. 
Sejauh mana engkau mempercayai masa depanmu di dalam Tuhan? Sejauh mana kita memiliki pengharapan pada Tuhan, di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan? Harapan iman Kristen bisa berpengaruh besar dalam merespon penderitaan dan menjalani proses dengan bergantung kepada Tuhan. 

Jangan tawar hati, juga waktu menghadapi maut
2 Korintus 4:16-18 (TB) Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Jangan tawar hati merupakan pemikiran inti yang diajarkan dalam ayat ini. Tidak tawar hati berarti tidak putus asa, tidak berhenti di tengah jalan, tekun, penuh semangat. Ini adalah reason yang diberikan Paulus ketika orang-orang mempertanyakan otoritasnya sebagai hamba Tuhan dalam memberitakan Injil. 
Kehidupan perjalanan Paulus adalah kehidupan yang penuh dengan penderitaan. Sebagai seorang Rasul, Paulus dipertanyakan karena mengalami banyak tantangan ketika memberitakan Allah sebagai Tuhan yang baik dan menopang. Bahkan, Paulus mempertaruhkan nyawanya dalam pelayanan. 

Mengapa Paulus tetap tekun dan tidak tawar hati di tengah situasi pelayanan yang penuh penderitaan? 
1. Penderitaan memperbarui diri Paulus 
(ayat 16) 
"Tidak tawar hati": Paulus menunjukkan kontradiksi antara fisik yang fana dan rohani yang semakin kuat -- lahiriah semakin merosot, batiniah semakin dibaharui. 
"Manusia lahiriah": merujuk pada keberadaan tubuh fisik Paulus yang kenyataannya semakin merosot, dari sekian banyak penderitaan yang dialami Paulus membuat tubuh fisiknya semakin hancur dan lemah (bdg ayat 7).
"Manusia batiniah yang terus menerus diperbaharui": Kolose 3:10, berbicara tentang manusia yang ada di dalam Kristus. Walaupun penderitaan fisik yang dialami semakin menggerogoti tubuhnya, itu memperbaharui dirinya sebagai manusia baru yang telah ditebus oleh kematian dan kebangkitan Kristus. 

Terkadang ketika kita merasa paling tidak berguna, paling tidak termotivasi, paling tidak memiliki harapan, saat itulah Tuhan sedang melakukan transformasi dalam hati kita. 

2. Penderitaan mengerjakan kemuliaan kenal (ayat 17) 
"Sebab penderitaan ringan kita yang sesaat ini menghasilkan bagi kita, secara berlimpah-limpah melampaui segala ukuran, suatu bobot kemuliaan yang kekal." (2 Korintus 4:17 YLT)
Dasar dari perspektif kekekalan: 
2 Korintus 4:18 (TB) Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
"Yang tidak kelihatan" berarti kehidupan kekal bersama Bapa di Sorga. 

Apa yang mengikat perhatian kita, mencerminkan di mana hati kita berdiam. Jika yang terlihat hanyalah penderitaan, mungkin di sanalah hati kita masih tinggal (dunia). 

Mari renungkan penderitaan Kristus yang mengalami seluruh kesakitan hingga mati di kayu Salib. Tidak ada satu penderitaan yang kita alami yang tidak pernah dialami oleh Kristus. Dia merengkuh segala penderitaan kita supaya kita terlepas dari hukuman, memulihkan jiwa kita, relasi kita dengan Allah, dan memberi kita hati yang baru. Penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan penderitaan Kristus. Penderitaan sementara yang kita alami adalah untuk mempersiapkan kekekalan selamanya bersama Dia. Amin. 











Comments

Popular Posts