Meaninglessness of Pleasure | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Meaninglessness of Pleasure 
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Reformed Exodus Community

Ketidakberartian kesenangan menimbulkan pertanyaan: apakah kesenangan pada dirinya sendiri adalah hal yang keliru? Apalagi kita hidup dengan semangat zaman yang ditandai dengan materialisme, hedonisme, konsumerisme. Tujuannya adalah mencapai kepuasan atau kesenangan pribadi. 

"Ketika kita ada di kaki gunung, kita lakukan apapun untuk mencapai puncak. Ketika kita sudah mencapai puncak, kita tidak menemukan apa-apa". Seringkali kita mencari hal yang menyenangkan untuk memuaskan diri kita. Padahal sebetulnya itu adalah hal yang sia-sia. 

Pengkhotbah 2:1-11 (TB) Aku berkata dalam hati: "Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itu pun sia-sia."
Tentang tertawa aku berkata: "Itu bodoh!", dan mengenai kegirangan: "Apa gunanya?" 
Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur, — sedang akal budiku tetap memimpin dengan hikmat —, dan dengan memperoleh kebebalan, sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk dilakukan di bawah langit selama hidup mereka yang pendek itu. 
Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur;
aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan; 
aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda. 
Aku membeli budak-budak laki-laki dan perempuan, dan ada budak-budak yang lahir di rumahku; aku mempunyai juga banyak sapi dan kambing domba melebihi siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku. 
Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik. 
Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapa pun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku. 
Aku tidak merintangi mataku dari apa pun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apa pun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku.
Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari. 

Penulis kitab Pengkhotbah atau Kohelet ini adalah orang yang sangat dekat dan dipengaruhi oleh Salomo, dan seringkali menempatkan dirinya sebagai Salomo, raja yang begitu sukses mencoba mencari kesenangan untuk meraih kepuasan sebagai tujuan hidup. 

Katekismus Westminster memberikan pertanyaan: "What is the chief end of man? Man's primary purpose is to glorify God and enjoy him forever". Tujuan ultimat manusia adalah memuliakan Allah. Allah tidak pernah anti terhadap kesenangan, tetapi Allah anti terhadap cara yang salah untuk mencapai kesenangan. 

Pengkhotbah mencoba menyelidiki segala sesuatu melalui hikmat namun menemukan kesedihan dan kesusahan. Maka pengkhotbah mencari kesenangan dan kebahagiaan untuk memuaskan perasaan dan mematikan akal budi.

 Menurut terjemahan Septuaginta, Pengkhotbah menguji kesenangan dengan mengaitkan dengan apa yang baik. Bahkan, kesenangan atau kegirangan yang diwujudkan tertawa dianggap gila dan tidak berguna oleh Kohelet, karena kesenangan atau kegirangan tidak mencapai apa-apa, tidak menyelesaikan masalah. Kesenangan yang dimaksud Kohelet adalah kesenangan yang perspektifnya tidak berhubungan dengan kekekalan, tanpa menyadari itu dari Tuhan, untuk Tuhan, dan untuk menikmati Tuhan, maka kesenangan itu tidak ada artinya (Pengkhotbah 2:22-24) 

Kuantitas Kesenangan (Pengkhotbah 2:3-8) 
Beragam jenis kesenangan sudah dicoba oleh Kohelet: 
- pesta/anggur (2:3): lingkaran setan kecanduan; 
- mega proyek (2:4-6): replikasi firdaus yang sia-sia, rujukan ke firdaus diisyaratkan dengan tujuh kata kerja yang dikaitkan dengan tujuh hari penciptaan, banyak kata yang muncul di 2:4-6 juga banyak muncul di Kejadian 1-2 (kata "bagiku" 4x).
- kekayaan (2:7-8): Salomo membeli budak, memiliki kekayaan yang tidak terhingga (2 Tawarikh 9:13-29) namun kekayaan tersebut tidak memuaskan dan tidak berarti apa-apa. 
- pesta (2:9) -- pesta seks yang menyedihkan dengan banyak isteri dan gundik (1 Raja-raja 11:3). 
Semua dilakukan Salomo sebagai eksperimen "berhikmat" (2:3, 9) namun tidak mendapatkan apa-apa. 

Kualitas Kesenangan (Pengkhotbah 2:9-10) 
Secara empiris, ada kesenangan dari semua pengalaman tersebda ('sebab hatiku bersukacita atas segala jerih payahku'). Tidak salah apabila seseorang mendapatkan hasil sesuai jerih payahnya, yang salah dan tidak ada gunanya adalah ketika memperoleh hasil tanpa memaknai bahwa semua dari Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan.
 
Pengkhotbah 2:11 (TB) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari. 




Comments

Popular Posts