Doa Bukan Mantera | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Doa Bukan Mantera
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Reformed Exodus Community
06 April 2025

Kalau kita mau jujur, hampir semua kita pernah memperlakukan doa seperti mantra. Banyak orang Kristen berdoa pada dirinya sendiri dan berharap terjadi sesuatu. Gereja-gereja marak membacakan Doa Yabes, berharap diberkati, diperluas daerahnya, dan dikuatkan. Seharusnya kita berdoa dengan benar, bukan memperlakukan doa sebagai mantera. 

Matius 6:9a
Matius 6:9 (TB)  Karena itu berdoalah demikian: "Bapa kami yang di sorga,"

Mengapa Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami? (The Lord's Prayer) 
Karena itu berdoalah demikian... 
Latar belakang Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami adalah karena adanya:
- doa yang dipamerkan untuk mendapatkan pujian dari orang (6:5-6) 
- doa yang diulang-ulang tanpa arti hanya untuk mengontrol hati Allah (6:7-8)
Padahal doa bukan soal kata, melainkan soal makna dan hubungan kita dengan Allah

Yesus mengajarkan "bagaimana" bukan "apa":
"Demikian" (LAI:TB, houtos) 'in this manner' (KJV), 'in this way' (NASB, NSRV), 'this, then, is how you should pray' (NIV) -- sebuah cara (1:18, 3:15, 5:12) 

Dukungan dari konteks:
Doa diajarkan kepada murid-murid sebagai kritikan terhadap cara berdoa (bukan isi doa, bukan kata-katanya, tetapi tentang maknanya). 

Komparasi dengan Versi Lukas
Lukas 11:2-4 (TB) Jawab Yesus kepada mereka: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

Bagi Matius dan Lukas, yang terpenting bukan kata per kata melainkan maknanya. Yang penting bukan masalah lengkap atau tidak lengkap, melainkan benar atau salahnya, sesuai fakta atau tidak. 
Doa Bapa Kami menyediakan pemahaman, bukan sekadar hafalan. Makna, bukan sekadar kata-kata. Pada dirinya sendiri, doa kita tidak mengandung kuasa. Doa bukan mantera. 

Banyak orang berpikir banyak doa berkuasa, padahal yang berkuasa bukan doanya tetapi Allahnya. Iman itu kepada Tuhan, bukan berikan kepada kata-kata doa. Para pengkhotbah dipengaruhi New Age Movement  yang memandang bahwa manusia adalah Allah-allah kecil yang memiliki hakikat Ilahi. Padahal ini adalah ajaran yang salah. 

Para rasul tidak pernah menutup doa dalam nama Yesus. Karena doa bukan masalah mantra yang harus menyebutkan dalam nama Yesus. Yang menentukan bukan kata-kata. Contoh: Anak-anak Sewa yang tidak memiliki relasi dengan Yesus sehingga doa tersebut tidak berkuasa mengusir roh jahat. 

Yesus mengajarkan "hubungan" bukan "ritual":
"Bapa kami yang di sorga" (6:9b) --> jauh lebih singkat daripada pendahuluan doa-doa kuno pada umumnya.
Doa yang panjang seringkali hanya berisi permohonan, bukan membangun hubungan. 

Gereja adalah Israel yang baru
Seringkali banyak konsep yang salah dengan alasan teologis terhadap Israel. Seharusnya kita melihat dari sisi kemanusiaan, bukan dari sisi keagamaan saja. Karena tidak semua orang Israel adalah pilihan Allah, tidak semua keturunan Abraham adalah pilihan Allah. 
Keluaran 4:22 "Israel kalah anakKu, bdk Hosea 11:1) -- kini Yesus menerapkan hal itu dalam relasi antara Allah dan kita. Orang Israel, Yahudi, tidak serta merta umat pilihan  Allah. Gerejalah yg umat pilihan, bukan orang Israel. 

Apa makna kata "Bapa"? 
Sebutan " Bapa" berarti kedekatan dan kebaikan Allah. Menyebut Allah sebagai Bapa berarti Bapa bersana kita dan melihat kita dalam kesendirian kita (6:6b) "berdoalah kepada Bapanya yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapa mu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" -- Allah ada dalam kesendirianmu. Allah peduli dengan kebutuhanmu. Karena Bapa mu mengetahui sebelum kamu memintanya (6:8b, 7:11). Doa bukan memberitahu Tuhan apa yg kita mau, tetapi mencari tahu apa yang Tuhan mau. 

Kedekatan ini akan menjadi semakin indah apabila kita mengingat bahwa Allah bukan hanya Bapa kita, tetapi Dia juga berada di sorga. Kemungkinan besar merupakan tambahan dari Matius sendiri untuk memperjelas makna aslinya: kata "sorga" muncul 73x di Injil Matius hanya 16x di Injil Lukas. 

Tidak ada persoalan kita yang terlalu kecil. sehingga diabaikan oleh Allah kita yang Maha Besar. 

Keseimbangan antara Transendensi & Imanensi 
Keseimbangan ini termasuk unik di antara agama-agama yang ada
- bukan "maha besar" sampai tidak terjamah
- bukan konsep filosofis yang abstrak
- bukan sekedar kuasa ilahi yang impersonal
- bukan meniadakan perbedaan hakiki Allah dengan manusia 

Melalui penebusan Kristus dan karya Roh Kudus kita sekarang memanggil Allah Ya Abba ya Bapa (Roma 8:14-16) 

Di kayu salib, Kristus rela ditinggalkan oleh BapaNya supaya kita dapat menjadi anak-anak Bapa. 
Yang menggerakkan Bapa untuk menolong kita bukan kata-kata kita, melainkan KasihNya pada kita. 


Comments

Popular Posts