When Workaholism Doesn't Work | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D
When Workaholism Doesn't Work
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D
08 Juni 2025
Alkitab tidak pernah melarang kita bekerja keras. Yang tidak diperkenankan Alkitab ialah ketika seseorang bekerja keras untuk memenuhi hasrat untuk berbahagia. Banyak orang mengumpulkan harta demi bisa bahagia dan mewariskan harta yang banyak.
Drama & fakta tentang Warisan:
- banyak orang bertengkar karena warisan
- 60% kasus, warisan habis di akhir generasi kedua
- lebih memilih badan amal daripada anak, karena anak tidak mengetahui keberhargaan barang atau harta yang telah dikumpulkan
Menentang mitos populer: bahwa bekerja keras, menghasilkan harta yang banyak, akan mendatangkan kebahagiaan.
Pengkhotbah 2:18-23 (TB) Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.
Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Ini pun sia-sia.
Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.
Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?
Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun sia-sia.
Kohelet telah melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan arti hidup. Baik orang bodoh atau berhikmat bernasib sama: mati dan dilupakan banyak orang (2:11-17)
Kalau nanti mati, bagaimana nasib hasil pekerjaan mereka?
Pengkhotbah 2:11-17 (TB) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.
Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang.
Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan.
Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua.
Maka aku berkata dalam hati: "Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?" Lalu aku berkata dalam hati, bahwa ini pun sia-sia.
Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!
Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
Kohelet memberitahu kita bahwa dia adalah seorang pekerja keras:
- "dengan bersedih lelah", muncul 4x
- "dengan berlelah-lelah", muncul 2x
- "pada malam hari hatinya tidak tenteram", (2:23)
Kohelet juga pekerja cerdas:
- "dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat" (2:19)
- "berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan" (2:21)
Hasil pencarian Kohelet:
- "aku membenci" (2:18a, bdk 2:17)
- "aku mulai putus asa" (2:20)
- "penuh kesedihan dan penuh kesusahan hati, hatinya tidak tentram" (2:23)
- "ini pun sia-sia" (2:19b, 23)
- "inipun kesia sisan dan kemalangan yang besar" (2:21)
Alasan Kohelet
Pengkhotbah 2:18 (TB) Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.
Jika semua yang ada pada kita kelak akan terlepas dari tangan kita, respon terbaik bukan terus menambahkannya, tetapi belajar untuk melepaskannya. Semua yang bisa hilang atau diambil dari hidup kita adalah tidak berharga, jangan letakkan harga diri kita di atasnya.
Penerus belum tentu berhikmat
Pengkhotbah 2:19 (TB) Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Ini pun sia-sia.
Kebodohan Rehabeam: kesia-siaan pekerjaan Salomo yang tidak bisa diteruskan oleh anaknya
1 Raja-raja 14:26 (TB) Ia merampas barang-barang perbendaharaan rumah TUHAN dan barang-barang perbendaharaan rumah raja; semuanya dirampasnya. Ia merampas juga segala perisai emas yang dibuat Salomo.
Memberikan nilai-nilai kehidupan dan keteladanan adalah warisan spiritual yang paling dibutuhkan.
Penerus menerima tanpa berusaha.
Pengkhotbah 2:21 (TB) Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.
Tanpa perspektif kekekalan, banyak pencapaian terlihat sebagai kebodohan.
Kita perlu meluaskan perspektif kita.
Apa yang menggerakkan kerja keras kita selama ini?
Bekerja keras dnegan hikmat atau puas dengan Sang Hikmat?
1 Korintus 1:24 (TB) tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.
Comments
Post a Comment