Waiting, Not Idle | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Waiting, Not Idle
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Apa yang kita lakukan saat menunggu?
Menunggu bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Paulus mengajarkan kita tentang kebangkitan tubuh. Sekarang kita sedang menantikan itu. Selagi kita menantikannya, apa yang kita lakukan?
2 Korintus 5:6-10 (TB) Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan,
— sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat —
tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.
Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.
Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.
"We live by faith not by sight"
Seringkali diartikan dan ditafsirkan secara keliru dan fatal, karena ayat ini samasekali tidak membicarakan tentang mujizat.
Paulus berbicara tentang sesuatu yang nanti kita terima, yaitu tubuh kebangkitan.
Tulisan Paulus di Korintus ialah pada saat ia mengalami physical suffering seperti penganiayaan, penyiksaan di pasal 5 (sebab itu dikatakan 'meskipun keadaan jasmani semakin merosot'). Tubuh yang semakin merosot secara jasmaniah ini (4:16) maka oleh karena itu (5:6) pasti dibangkitkan.
Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen yang dicerminkan Paulus?
1. Bersikap Tabah (ayat 6-8)
Tabah bukan berarti menerima dengan pasrah. Asal kata Yunani tabah yaitu tharreō yang berarti good courage dalam bahasa inggris.
Tharreō muncul dua kali (5:6a, 8a). Tabah berarti menjalani hidup dengan keberanian atau keyakinan (7:16, 10:1,2).
Di pasal 5:8b Paulus "ingin menetap pada Tuhan" (Filipi 1:2-25) tetapi untuk sementara waktu harus berada "jauh dari Tuhan" (5:6b), yang berarti ketegangan, bukan keputusasaan.
Paulus mengajarkan kepada kita keyakinan dan keberanian untuk menjalani hidup, tidak putus asa meskipun sangat menderita.
Oleh sebab itu Paulus mengatakan "for we walk by faith, not by sight" (5:7 ESV).
"Iman" (pistis) dan "wujud" (eidos, Luk 3:22, 9:29, Yoh 5:37, 1Tes 5:22)
- Yang diimani = belum ada wujudnya sekarang -> kemudian kekal (4:16-18) atau kebangkitan tubuh (5:1-5).
- Yang dilihat = berbagai penderitaan dalam pelayanan dan tubuhnya yang semakin merosot (4:7-9)
Apa yang kita lihat menentukan bagaimana kita berjalan. Kondisi hati dipengaruhi oleh akal budi. Bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang cara pandang. Cara pandang kita menentukan bagaimana kita hidup.
2. Berkenan kepada Tuhan (ayat 9-10)
Tidak hanya bersikap tabah, tetapi juga berusaha memperkenankan hati Tuhan. Kata berusaha (LAI:TB) philotimeomai yang berarti pengejaran atau kecintaan terhadap sesuatu yang mulia (LS Lexicon, bdk. Roma 15:20, 1 Tes 4:11), melibatkan ambisi yang besar terhadap suatu tujuan (YLT/NASB). Ambisi Paulus adalah berusaha dengan ambisi dan tujuan untuk berkenan kepada Allah.
Kata berkenan berarti well-pleasing atau menyenangkan hati. Makna yang disiratkan bukan sekedar "dapat diterima" (acceptable, kontra KJV), tetapi juga "menyenangkan" (well-pleasing, bdk. arestos di Kis 6:2, 12:3, 1 Yoh 3:22) - sering dikaitkan dengan ibadah (Roma
Menyenangkan Tuhan bukan hanya sebuah pilihan atau slogan bagi kita, melainkan tujuan dari keberadaan kita.
Di ayat 10 Paulus berbicara tentang pengadilan Kristus "Sebab kita semua harus menghadapi takhta pengadilan Kristus":
- apakah itu berarti kemungkinan kita akan dihukum (baca: tidak diselamatkan?)
- mengapa pengadilan ini seolah-olah didasarkan pada perbuatan masing-masing orang (bukan berdasarkan iman)
- jika didasarkan pada pengadilan di akhir jaman, bukankan yerkesanntransaksional dan legalisir?
Di ayat ini, Paulus buka menyuratkan keraguan terhadap kepastian keselamatan.
- Paulus dan seluruh orang percaya akan dibangkitkan bersama dengan Kristus (4:14)
- Allah sudah menyediakan tempat bagi orang percaya.
- Paulus berbicara tentang upah, bukan keselamatan. Karena jika berbicara tentang upah, patokannya memang apa yang dilakukan seseorang.
Semua orang percaya diselamatkan dengam cara yang sama, yaitu oleh kasih karunia melalui iman, tetapi tidak semua orang percaya akan menerima upah yang sama. Karena Dia adalah Allah yang penuh kasih karunia dan Allah yang adil.
Fokus Paulus bukan transaksional. Tetapi menyenangkan hati Tuhan. Paulus sudah memberitahukan bahwa ambisi dan fokus hidupnya adalah menyenangkan hati Allah (5:9). Upah adalah bonus, bukan fokus. Upah adalah urusan Tuhan. Fokus kita menyenangkan hati Tuhan. Kalau menaati Tuhan hanya untuk mendapatkan upahnya, maka iman kita adalah iman anak kecil yang tidak mengerti anugerah.
Yohanes 8:29 (TB) Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya."
Comments
Post a Comment