Doa dan Kedaulatan Allah | Pdt. Troy Hindarto
Doa dan Kedaulatan Allah
Pdt. Troy Hindarto
15 Juni 2025
2 Korintus 12:7-10 (TB) Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Segala yang terjadi dalam hidup kita tidak terlepas dari kehendak dan kedaulatan Allah. Doa bukan sekedar daftar permintaan yang kita ajukan kepada Tuhan untuk dipenuhi.
Semakin banyak kita berdoa, semakin mengerti kita akan kedaulatan Allah. Semakin mengerti kita akan kedaulatan Allah, semakin banyak kita akan berdoa.
Isi dan Kehidupan Doa Paulus
Isi doa Paulus: memohon Allah untuk menyingkirkan duri dalam daging (ayat 8). Bagi pandangan teologi kemakmuran dan hyper grace, kehidupan dan isi doa Paulus nampak tidak sungguh-sungguh. Padahal, ini bukan soal iman atau doa Paulus yang salah, melainkan kehendak Allah yang harus dinyatakan.
Penafsiran "duri dalam daging":
1. Tafsiran di Kitab Roma diartikan sebagai kekhawatiran Paulus terhadap kehidupan orang Israel yang tertindas
2. Tafsiran lain perihal ini adalah pengajaran oleh nabi-nabi palsu
3. Tafsiran lain mengartikan duri dalam daging sebagai penyakit yang diderita Paulus (malaria, Malta fever, dst).
Paulus berdoa dengan jujur kepada Allah mengenai situasinya. Begitu pula dengan Yesus yang berdoa dengan jujur kepada Allah mengenai ketakutanNya sebelum disalib. Isi doa yang jujur kepada Allah menunjukkan keintiman dan kedekatan dengan Allah.
Paulus berdoa tiga kali kepada Allah, namun jawaban Allah tetap "tidak". Dalam surat Paulus terdapat 43x tulisan tentang doa, diantaranya tentang memuliakan Allah, untuk kesejahteraan orang lain, dan untuk dirinya sendiri. Ini mencerminkan Paulus sebagai seorang pendoa yang tidak sedikitpun kurang imannya untuk memohon kepada Allah.
Mengapa Allah yang Berdaulat Menjawab 'Tidak' pada Doa Paulus
Untuk mengetahui tingkat spiritualitas seseorang, paling baik jika diukur dari kehidupan doa dan isi doa dari orang tersebut. Kerohanian seseorang tidak bisa diukur dari pelayanan yang dilakukan, karena pelayanan adalah wujud yang nampak di luar (performance) saja.
Lalu mengapa Allah yang berdaulat menjawab tidak terhadap doa Paulus?
1. Agar Paulus tidak meninggikan diri.
2 Korintus 12:7 (TB) .... maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
Bagi Allah, pertumbuhan karakter kita jauh lebih penting daripada besarnya pelayanan kita. Disiplin rohani dan penderitaan kita lah yang akan membuat kita bertumbuh dan mendekat kepada Allah.
2. Agar Paulus mengerti kasih karunia Allah
2 Korintus 12:9 (TB) Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Dari doa Paulus kita belajar bahwa anugerah Tuhan itu adalah kedaulatan Allah, bukan jatah untuk kita. Anugerah Allah cukup bagi kita. Allah berdaulat untuk menentukan siapa yang akan menerima anugerah-Nya. Dia juga berhak menentukan seberapa banyak anugerah yang akan diterima oleh seseroang. Dia memastikan bahwa melalui anugerah-Nya tujuan-Nya akan digenapi.
Mazmur Asaf
Mazmur 73:26 (TB) Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.
Respon Paulus akan Jawaban Allah
2 Korintus 12:9 (TB) ...Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Respon Paulus bukan hanya menerima kehendak Allah, tetapi bersuka dan bermegah atas penderitaan yang tidak disingkirkan Allah.
Untuk menyembuhkan orang sakit mungkin diperlukan iman yang besar, namun untuk bermegah dan bersuka dalam kelemahan pasti dibutuhkan iman yang benar.
Ketika kita berdoa, ingatlah kepada siapa kita berdoa, yaitu kepada Allah yang berdaulat dalam hidup kita, yang menghendaki kehidupan dan karakter kita berkenan dan sempurna di hadapanNya.
Comments
Post a Comment