Doa Mengubah Segalanya? | Pdt. Andy Setiabudi
Doa Mengubah Segalanya?



Pdt. Andy Setiabudi
29 Juni 2025
Reformed Exodus Community
2 Raja-raja 20:1-11 (TB) Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi."
Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN:
"Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.
Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya:
"Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN.
Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku."
Kemudian berkatalah Yesaya: "Ambillah sebuah kue ara!" Lalu orang mengambilnya dan ditaruh pada barah itu, maka sembuhlah ia.
Sebelum itu Hizkia telah berkata kepada Yesaya: "Apakah yang akan menjadi tanda bahwa TUHAN akan menyembuhkan aku dan bahwa aku akan pergi ke rumah TUHAN pada hari yang ketiga?"
Yesaya menjawab: "Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya: Akan majukah bayang-bayang itu sepuluh tapak atau akan mundur sepuluh tapak?"
Hizkia berkata: "Itu perkara ringan bagi bayang-bayang itu untuk memanjang sepuluh tapak! Sebaliknya, biarlah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak."
Lalu berserulah nabi Yesaya kepada TUHAN, maka dibuat-Nyalah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak, yang sudah dijalani bayang-bayang itu pada penunjuk matahari buatan Ahas.
Hizkia adalah Raja yang taat kepada Allah. Lalu kenapa Raja Hizkia tetap menerima vonis penderitaan penyakit?
Kesalehan tidak mengimunisasi kita dari penderitaan.
Bagaimana respon Hizkia?
Setelah menerima kabar yang tidak baik, Hizkia memalingkan wajahnya ke dinding.
"Turning to the wall is more than private withdrawal- it is a signal of internal desperation." (Baker, 2011)
Seruan Hizkia bukan upaya menuntut berdasarkan prestasi, melainkan doa relasional yang kelurahan dari posisi kovenantal. Ia tahu Allah telah mengikat janji dengan umatNya untuk memelihara mereka jika mereka hidup dalam kesetiaan.
Hizkia tidak mengatakan "saya sempurna", melainkan: Saya telah berjalan di hadapanMu, artinya hidup dalam terang perjanjian (bdk. Kejadian 17:1, 1 Raja-raja 9:4)
"Tulus hati" (b'lev Shalem) berarti dengan hati yang utuh, bukan bercabang dan tidak bersandar pada para berhala seperti raja sebelumnya.
Ini bukan teologi "aku sudah baik maka Tuhan harus memberkati", melainkan: "Tuhan, aku telah berjalan bersamaMu, dengarkanlah aku hambamu yang lemah".
Doa bukan manipulasi, tetapi relasi yang hidup. Bukan datang dengan keputus asaan, tetapi dengan kepercayaan kepada Allah yang penuh setia.
Datang pada Allah dalam setiap kondisi, penderitaan maupun kebahagiaan, untuk menjalin relasi dengan Allah, bukan sekedar transaksi.
Jawaban Allah terhadap Hizkia bukan berarti ketidakkonsistenan Allah. Ia tetap berdaulat sekaligus personal: Ia menentukan segalanya, namun juga berelasi dan bereaksi terhadap umatndalam kerangka kovenan (2 Raja-raja 20:4-7)
Allah bukan hanya Mahakuasa, tetapi juga mahaempatik, penuh belas kasihan dan memilih untuk bertindak bukan karena berubah pikiran, tetapi karena kemurahan hatiNya adalah bagian dari naturNya.
Kata "melihat" (ramah) dalam "Aku telah melihat penderitaan umatKu" adalah kata yang sama digunakan ketika berbicara dengan Hizkia. "Melihat" bukan hanya visualisasi fisik tetapi mengandung konotasi empatik dalam PL (bdk. Keluaran 3:7).
Allah tidak hanya Mahakuasa, tapi juga pribadi yang terlibat, dan dalam relasi perjanjian dengan manusia. Ia tidak berubah secara esensi (immutability), tetapi berinteraksi secara nyata dan responsif..
Otoritas Allah yang berdaulat melampaui apapun (2 Raja-raja 20:8-11). Allah memegang kendali waktu dan sejarah manusia. Sumberdaya Allah yang Tuhan beri dan tidak bisa kita ciptakan adalah waktu.
Hizkia memperanakkan Manasye, raja yang sangat jahat, tiga tahun setelah Hizkia disembuhkan. Jika Tuhan tahu Manasye akan menjadi begitu jahat, mengapa Dia mengabulkan doa Hizkia? Apakah ini kesalahan Tuhan? Tidak, di akhir ceritanya, Manasye bertobat (2 Tawarikh).
Terkadang jawaban Tuhan memang membingungkan, tak dapat kita mengerti. Tetapi saat kami tidak bisa memahami jalanNya percaya pada karakterNya. Ia Allah yang tak terbatas, Ia sungguh maha Kuasa, Dia tetap baik, bahkan saat rencanaNya terasa berat tetap berakhir pada kebaikan untuk kita.
Doa tidak selalu mengubah situasi seperti yang kita harapkan, tapi selalu membawa kita lebih dekat kepada Allah yang berdaulat,
Janji Tuhan tidak pernah gagal, tetapi tidak selalu nyaman. Doa tidak selalu mengubah situasi seperti yang kita harapkan, tetapi selalu membawa kita lebih dekat kepada Allah. Doa tidak mengubah segala sesuatu, tetapi mengubah sikap hati kita.
Comments
Post a Comment