Doa: Penyerahan atau Pemaksaan Kehendak? | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Doa: Penyerahan atau Pemaksaan Kehendak?
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Apakah selama ini kita sudah berdoa dengan benar? Seringkali kita mendengar ajaran doa yang salah: apa yang kita minta maka akan selalu dikabulkan oleh Tuhan. Contoh: prosperity gospel atau the faith movement.
Ajaran salah yang lain: kita harus melakukan segala sesuatu untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan, perbuatan baik kita menggerakkan kebaikan Tuhan, jika kita beriman maka Tuhan tidak punya pilihan. Ini ajaran yang tidak sesuai Injil. Kebaikan Tuhan cukup bagi kita. Contoh salah yang lain: jika doa kita tidak dijawab oleh Tuhan, kita dianggap tidak cukup beriman, atau ada dosa yang belum dibereskan. Padahal, kebenarannya adalah kebaikan Tuhan cukup bagi kita (His grace is sufficient for us).
Matius 26:36-46 (TB) Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.
Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.
Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.
Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."
Sedih
Bukan hanya "merasa sedih" (hype) tetapi juga "sangat sedih" (perilypos), bahkan "seperti.mai mati rasanya" (heos thanatou, lit. "seperti kematian", mayoritas versi " to the point of death".
Gentar
Kata ademoneo = situasi yang sangat tertekan (KJV/NLT "very heavy", NASB/NLT "distressed" NSB/NIV/EST "troubled" --> kondisi jiwa Epafroditus (Filipi 2:26).
Walau sudah tahu yang akan terjadi (16:21: 20:18-29, 26:31-32). Yesus tetap merasa "sedih dan gentar" (26:37, lypeo dan ademoneo)
Yesus terbuka kepada orang lain, tidak jaim dan mengakui kesedihan dan ketakutanNya kepada murid-murid.
Yesus bukan takut pada kematian, tetapi takut akan jenis kematian, yaitu cawan murka Allah. Dia menanggung cawan murka Allah bagi kita (metafora cawan murka Allah di PL, menanggung siksa kematian di kayu salib, yaitu ditinggalkan oleh hadirat Allah (2 Kor 5:21, Galatia 3:13).
Sikap Yesus berbeda kontras dengan murid-muridnya. Pada perikop sebelumnya, sudah diperingatkan tentang goncangan iman (26:30-35), tetapi tidak mau berjaga-jaga atau berdoa (26:40-4, 43).
Kesungguhan
- "bersujud" (LAI:TB, epesen epi prosopon autou; mayoritas versi "he fell on his face")
- gesture (26:39) = cerminan
- sikap hati (26:37-38)
- berdoa sebanyak tiga kali (bdk. Paulus di 2 Korintus 12:7-10). Berdoa tiga kali artinya sudah tahu apa kehendak Tuhan.
Keberserahan
Antara kehendak daging (hakikat manusiawi yang ingin menjauhi penderitaan) dengan kehendak Bapa --> doa sebagai sarana kemenangan (26:41, bdk. 6:13a).
Doa bukan mengatur Tuhan dan memaksakan kehendak kita, tetapi menaklukkan kehendak kita.
Doa membuat kita berani merengkuh bahaya yang membuat kita tidak nyaman. Ketenangan dan keberanian bukan dari perubahan keadaan, tetapi keyakinan terhadap rencana Tuhan.
Injil berbicara tentang berserah pada kehendak Bapa yang baik, bahkan di tengah situasi yang terburuk.
Comments
Post a Comment