Greater Value, Equal Vanity | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D
Greater Value, Equal Vanity
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D
Reformed Exodus Community
11 May 2025
Ironi kehidupan: tidak peduli seberapa besar pencapaian manusia di dunia ini, suatu saat pasti akan dilupakan. Semua yang kita miliki akan kita lepaskan pada akhirnya.
Pengkhotbah 2:12-17 (TB) Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang.
Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan.
Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua.
Maka aku berkata dalam hati: "Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?" Lalu aku berkata dalam hati, bahwa ini pun sia-sia.
Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!
Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
Kita semua mengagumi orang-orang yang pintar. Kita mudah mengagumi orang-orang yang berhikmat. Ada pengetahuan, ada hikmat. Pengetahuan adalah ilmu yang kita ketahui, hikmat adalah bagaimana kita menggunakannya di dalam kehidupan. Orang berhikmat tidak hanya melihat apa yang di permukaan namun lebih jauh menggali di dalamnya.
Pencarian Baru
Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan (lit."kegilaan": 7:25, 1:17, 9:3, 10:13) dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang (2:12)
What more dan the king's successor do than what has already been done? (2:12b NIV)
For who can do this better than I, the king? (2:12 NLT)
Inti pemikiran: belajar dari pengalaman orang lain. Salomo sudah melakukan segala sesuatu dengan hikmatnya.
"Those who cannot remember the past are condemned to repeat it." - George Santayana (1863-1952)
Yang paling penting bukan jumlah pengalaman, tetapi yang penting adalah jumlah pelajaran yang bisa diambil dari persoalan.
Greater Value
Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan.
Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua (2:13-14a).
Orang berhikmat berpikir sebelum bertindak.
Hikmat melebihi kebodohan: "melebihi" (LAI, TB, KJV, NASB, ESV, yang diartikan dalam versi lain "better" (NIV/NLT), "an advantage" (YLT) , "more gain" (ESV) - bejalan dengan hikmat membawa orang untuk umur panjang, hidup yang lurus, tidak tersandung, dan semakin terang seperti (Amsal 4:10-19).
Equal Vanity
Pengkhotbah 2:14-16 (TB) Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua.
Maka aku berkata dalam hati: "Nasib (miqreh) yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?" Lalu aku berkata dalam hati, bahwa ini pun sia-sia.
Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!
Miqreh berarti kejadian yang berada diluar kendali manusia, yang akan menimpa semua manusia (the happening and/or iccuting of that which is (for the most part) beyond human control. TWOT).
Miqreh yang dimaksudkan adalah kematian.
Semua orang akan mengalami kematian, tidak peduli seberapa besar pencapaian kita dalam hidup, semua sia-sia.
Pengkhotbah 2:16 (TB) Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!
Contoh: Perjuangan Gilgamesh untuk mendapatkan kekekalan dan kehormatan. Manusia diciptakan sebagai gambar Allah (kehormatan) yang kekal. Pada dasarnya semua manusia mencari nilai yang signifikan dalam hidup, ada kekekalan, dan kenangan yang terus berlanjut terus menerus. Kita tidak ingin hidup tanpa arti, karena memang seperti itulah Tuhan menciptakan kita, untuk kekekalan. Dosa memisahkan kita dari kekekalan. Syukur pada Allah, Yesus menebus kita dari dosa untuk memperoleh hidup yang kekal. The death of death in the death of Christ enables us to embrace death bravely and welcome eternity gratefully.
Semua orang akan dilupakan, tidak peduli seberapa besar dan spektakuler pengaruh maupun pencapaian yang telah diraih selama hidup. Semua upaya untuk mendapatkan penerimaan dan pengajuan dari banyak orang merupakan kebodohan, karena kita semua pada akhirnya akan dilupakan. Jangankan orang lain, keluarga kita pun pada akhirnya melupakan kita.
Konklusi
Pengkhotbah 2:17 (TB) Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
Menjalani kehidupan dalam kesementaraan tanpa memiliki pengharapan tentang kekekalan merupakan perjalanan yang melelahkan dan menakutkan. Tidak peduli seberapa besar pencapaian kita, pada akhirnya akan kembali ke tanah. Semua pencarian arti hidup akan sia-sia dan menyakitkan tanpa perjumpaan dengan pencipta kehidupan. Syukur kepada Allah yang memberikan pengharapan kepada kekekalan melalui penebusanNya. Amin.
Comments
Post a Comment