Constantly Groaning, Confidently Longing | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Constantly Groaning, Confidently Longing 
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
25 May 2025
Reformed Exodus Community


Masa Penantian
2 Korintus 5:1-5 (TB) Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 
Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,
sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. 
Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup. 
Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita.

Pasal 5:1 adalah lanjutan dari pasal 4:16-18
2 Korintus 4:16-18 (TB) Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Tempat kediaman di Sorga (ayat 1) 
2 Korintus 5:1 (TB) Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 
oikia (rumah, 5:1) 
skenos (tenda 5:1,4) 
Paulus di ayat ini tidak berbicara tentang rumah sebagai tempat tetapi tentang tubuh kemuliaan. Bagaimana bisa tentang kebangkitan tubuh? 
1. Analisa konteks: manusia lahiriah merosot (4:16), bejana tanah liat (4:7) 
2. Metafora persembahan di (5:2) 
3. Kemiripan. Ide dan kata dengan 1 Korintus 15:50 dan Roma 8:28-25

"Karena kami tahu.." Iman adalah tentang pengetahuan, bukan sekedar perasaan. Iman kita didasarkan pada pengetahuan kita akan kebenaran dan mendorong kita berkeyakinan. 
"Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di Sorga bagi kita.. " Lit: kami memiliki (present, echomen) adalah bangunan (pemberian) dari Allah. Iman selalu memiliki pengetahuan dan ketidaktahuan. 

Keyakinan tanpa pengetahuan merupakan penipuan perasaan atau sekadar kalimat motivational. 

Teosentris, Kontra Kultural (ayat 2-3) 
Filsafat Yunani saat itu mempercayai bahwa jiwa kita terpenjara di dalam tubuh, dan jiiwa akan bebas ketika mati. Kalau kita ingin punya pengharapan, harus punya disiplin pikiran yang terkontrol supaya kita tidak dikendalikan keadaan (Stoicism). Stoisisme mengajarkan bahwa untuk segala sesuatu harus dimaknai ulang agar kuat menghadapi penderitaan hidup. Sedangkan Paulus mengatakan semua adalah dari Allah, termasuk tubuh kemuliaan setelah kematian. 

Konsep dualisme Plato mengajarkan dua dimensi, yaitu material dan non material. Menurut Plato, manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Bagi banyak orang Yunani, filsafat Epikurianisme tidak mempercayai kehidupan setelah kematian, karena setelah kematian jiwa akan bebas berkelana. Paulus mentang dua ajaran tersebut. Jiwa tidak berkelana dalam dunia roh yang tidak jelas. Tubuh tidak buruk, hanya saja akan diganti dengan tubuh yang lebih baik. 

Manusia "mengeluh" (stenazo, 5:2, 4) di tengah masa penantian. Paulus mengeluh bukan bersungut-sungut tetapi atas kerinduan mendekati masa transisi. 
1. Paulus mengeluh karena ingin didapati tidak telanjang (ayat 2-3) 
2. Paulus mengeluh karena ingin yang fana ditelan oleh hidup (ayat 4). Yang membebani bukan tubuh atau penderitaan pada dirinya sendiri tetapi kerinduan yang besar terhadap kebangkitan tubuh. 

1 Korintus 15:54 (TB) Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.  

Konteks penmbicaraan: tubuh kebangkitan
Metafora: menanggalkan atau mengenakan pakaian
Pilihan kata: "menelan"

Jaminan selama penantian: Roh Kudus (ayat 5) 
Allahlah yang justru mempersalahkan kita untuk hal itu.. (5:5a). Kata "katergazomai" berarti mempersiapkan (5:5) = "mengerjakan" (4:17) .. yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan... (5:5b). Roh Kudus dalam diri kita digambarkan sebagai "uang muka" (arrabon): already but not yet

Allah bukan hanya membuat rencana, tetapi Dia sedang bekerja di dalam kita. 
Jika tubuh adalah objek penebusan yang mahal, tubuh tidak boleh digunakan secara sembarangan. 
Jika tubuh akan dibangkitkan, penyakit dan kematian seharusnya tidak menakutkan atau perlu dikuatirkan. 











Comments

Popular Posts