Pujian Malaikat | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Pujian Malaikat 
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
21 Desember 2025
Reformed Exodus Community


Dunia kita sedang tidak baik-baik saja. Banyak bermunculan peperangan baik fisik maupun perang dagang. Dunia merindukan shalom. Shalom artinya bukan hanya Damai, tetapi keutuhan. Keutuhan sebagai ciptaan. Tuhan menjanjikan langit baru dan bumi baru, namun Tuhan juga sudah menyediakan cara yang harus dilakukan untuk mengubah dan memulihkan dunia ini. 

Tuhan sudah menyediakan cara untuk memulihkan ciptaan, tetapi manusia selalu memiliki cara untuk menyalahkan Tuhan. Segala sesuatu yang buruk terjadi di hidup manusia seringkali Tuhan yang disalahkan. Padahal seharusnya tidak demikian. 

Lukas 2:8-14 (TB)  Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 
Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 
Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." 

Pujian Malaikat adalah pujian yang unik:
- Satu-satunya yang bukan oleh manusia
- Setting paling dramatis (2:8-9) 
- Pendengarnya pada gembala (2:8-14) 
- Jumlah pemujinya banyak (2:13) 
- Pujian yang sangat singkat (2:14) 

Pujian ini seharusnya dilihat dengan kacamata politik, karena adanya polemik secara politik, dan konflik antara Allah dan manusia.

Pax Romana
Ara Pacis : the author of peace (mezbah perdamaian) - Pax adalah dewi kedamaian Romawi yang disembah. Berbeda dengan bangsa Yunani yang berperang di bawah Alexander Agung, Romawi di bawah kaisar Agustus merindukan kedamaian. Pada waktu peristiwa Natal terjadi, pujian Malaikat berkaitan kesana: 
1. "damai sejahtera di bumi (2:14) 
2. "pada waktu itu Kaisar Agustus.." (2:1) 
3. "juruselamat" (2:11) - Kaisar Agustus menyebut dirinya penyelamat, namun tidak dapat terealisasi
4. "Kristus Tuhan di kota Daud" (2:11) 
5. "untuk seluruh bangsa" (2:10) 
6. "sejumlah bala tentara sorga" (2:13) - bala tentara dengan kata yang sama dengan tentara Romawi
7. Terbaring di dalam palungan (2:12) - sejak zaman dulu gembala adalah pemimpin umat

Kekristenan bukan hanya tidak antipolitik, namun bekerja melampaui politik. Aristoteles mengajarkan bahwa politik tidak terpisahkan dari kita, politik dimulai dari keluarga dan bukan dari partai. Membaca pujian malaikat secara politis mencerminkan adanya permasalahan propaganda politis pada masa itu. 

Konflik Spiritual 
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Jika kita merindukan Shalom secara global maupun personal, maka ada syarat yang harus terpenuhi:

1. Ketika ada harmoni antara sorga dan bumi
- kemuliaan // Damai sejahtera
- bagi Allah // di antara manusia
- tempat yang maha tinggi // bumi 
Kedamaian atau kebahagiaan hanya dapat ditemukan dengan memuliakan Allah. Damai sejahtera di bumi hanya dapat diperoleh dari memuliakan Allah di tempat maha tinggi. Damai sejahtera yang sesungguhnya adalah ketika manusia diperdamaikan oleh Allah dengan diriNya melalui AnakNya. Manusia berusaha mendamaikan dirinya dengan Allah, dan ini tidak akan berhasil. Karena perdamaian hanya dapat diinisiasi oleh Allah dan dieksekusi oleh AnakNya. Semua kebanggaan manusia tidak akan dapat memberikan hati yang Damai kepada manusia. 
What is the chief end of man? The answer is to glorify God and enjoy Him forever. 

2. Untuk orang yang berkenan kepada Allah
Walau kesukaan besar tersedia untuk "seluruh bangsa" (2:10), tetapi "Damai sejahtera" (Shalom) hanya bagi "men of good pleasure" (bdk. 1:50 "dan rahmatNya turun temurun atas orang yang takut akan Dia"), yakni orang-orang yang di dalam hidupnya kasih karunia sudah bekerja, sehingga mereka takut akan Allah.
Shalom lebih tentang perkenanan Tuhan, daripada perubahan keadaan maupun ketenangan perasaan. Ketenangan perasaan dan pikiran kita adalah keyakinan akan perkenanan Allah atas hidup kita. 

Apa yang seharusnya menjadi respon kita setelah kita mengalami Damai dari Allah? 
1. Jangan takut
2. Bersukacita
3. Memberitakan Injil
"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa" (2:10) 

Natal menjanjikan sebuah perubahan: dari ketakutan (terhadap kabar buruk) menuju pemberitaan (tentang Kabar Baik). 


Comments

Popular Posts