Nyanyian Maria | Pdt. Heri Kristanto
Nyanyian Maria
Pdt Heri Kristanto
07 Desember 2025
REC Nginden
Kita memasuki bulan Desember, memperingati Natal, kelahiran Yesus. Menjelang kelahiranNya terjadi banyak peristiwa, pergumulan khausunya bagi Maria sebagai Bunda Allah yang mengandung dan mendapatkan stigma negatif. Karena di zaman itu adalah aib jika hamil sebelum menikah. Di tengah pergumulannya, Maria tidak takut dan gelisah, malah justru memuji dan meninggikan Tuhan.
Lukas 1:46-55 (TB) Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya."
Siapakah Maria?
Kesalehan Maria
Maria adalah seorang yang sangat mencintai Taurat. Pujian Maria sangat mirip dengan yang dikatakan Hana pada kitab 1 Samuel 2. Setiap kata dalam pujiannya lahir dari kecintaannya terhadap kitab suci. Ini menunjukkan bahwa Maria adalah seorang saleh yang taat akan firman Tuhan.
1 Samuel 2:1 (TB) Lalu berdoalah Hana, katanya: "Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.
Pujian yang Mengakui Karakter Allah yang Kudus dan Adil
Ayat 49 "...karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus."
Allah yang kudus mengekspresikan diriNya dengan meninggikan yang rendah (berharap padaNya) dan merendahkan yang sombong.
Allah sama sekali tidak terkesan dengan kemewahan, apalagi kesombongan. Sebaliknya Dia berbelas kasihan kepada mereka yang hancur hati dan merendahkan diri.
Pujian yang Lahir dari Kesadaran akan Anugerah Pribadi
Ayat 48-49a "...sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku..."
Maria menyadari anugerah Tuhan yang diberikan secara pribadi hanya untuk Maria, maka Maria memuji Tuhan. Kita pun menerima anugerah pribadi yakni keselamatan dari Allah. Hendaknya kita pun memuji dan memuliakan Allah karena anugerahNya sebagai ekspresi ucapan syukur kita.
Pada waktu kita memperingati Natal, kita diingatkan kembali tentang anugerah Allah yang agung dan sempurna untuk menyelamatkan kita. Mari biarkan kekaguman kita kepada Allah menuntun langkah hingga kita hidup bersyukur dan sungguh bagiNya.
Pujian yang Lahir dari Jiwa yang Bersukacita di dalam Allah
Ayat 46-47 "Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,.. "
Meria merespon anugerah Allah dengan jiwa dan roh, bukan hanya dengan mulut saja. Maria tidak sekedar mengucapkan doa hafalan; jiwanya sedang merasakan kebesaran, kekudusan, dan belas kasihan Allah. Ada sukacita yang penuh di dalam hatinya.
Jangan biarkan mulut mengucapkan pengakuan dalam pujian sementara hati terpisah jauh dari Tuhan. Ibadah sejati adalah pertemuan (relasi), bukan sekedar pertunjukan.
Jika kekaguman akan Allah itu meimpah dalam hidup kita, kita akan bisa berkata sebagaimana Marka berkata, "Tuhan jadilah kehendakMu di dalam diriku. "
Comments
Post a Comment