Pujian kepada Kristus | Pdt. Heri Kristanto
Pujian kepada Kristus
Pdt. Heri Kristanto
Reformed Exodus Community
28 Desember 2025
Ketika kita mengakhiri tahun ini dengan kembali merenungkan pengenalan kita kepada Kristus, bagaimana kita menjalani hidup kita sepanjang hidup ini? Apakah kita mengerjakam bagian kita sebagai orang Kristen hanya sebatas mengikuti panduan hukum Taurat atau dengan memandang bagaimana kita mengenal dan ingin menjadi serupa dengan Kristus?
Ortodoksi mendahului Ortopraksi
Pernahkah kita berpikir bahwa kita mengerjakan bagian kita, hanya sebatas mematuhi aturan atau karena pengenalan akan Kristus?
Pengenalan akan pengajaran doktrin selalu mendahului apa yang kita kerjakan. Seseorang yang semakin mengenal Kristus maka hidupnya semakin berubah seturut kehendak Kristus. Tanpa dasar teologi yang benar tentang Injil dan pribadi Yesus Kristus, kerendahan harinhanya menjadi topeng moralitas, dan iman kehilangan daya transformatifnya. Kehidupan orang percaya seharusnya berakar pada Injil sebagai perspektif, motif, model, dan modal utama -di mana segala sesuatu dipahami, digerakkan, dan dimampukan oleh karya anugerah Kristus semata.
Di penghujung tahun ini, kita kembali belajar tentang pengenalan akan Kristus. Seperti apakah Kristus yang telah kita kenal? Apakah pengenalan akan Kristus telah benar-benar mengubah hidup kita, atau hanya memuaskan pengetahuan intelektualitas kita akan Kristus?
Filipi 2:6-11 (TB) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Nats ini dibagi menjadi 2 bagian, yaitu ayat 6-8 mengenai wujud kerendahatian Yesus Kristus, dan ayat 9-11 yaitu:
Wujud Kerendahatian Yesus Kristus
1. Tidak Mempertahankan Hak
Ayat 6: "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,"
Terjemahan asli: "yang walaupun berada terus menerus dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.. "
Yesus tidak kehilangan keilahianNya, tetapi Ia bersedia melepaskan hak-hak istimewa dan prerogatifNya sebagai Pencipta/sebagai Allah demi keselamatan kita.
Pada waktu Anak Allah turun ke dunia, bukan berarti Dia bukan lagi Allah, dan bukan berarti sebelum Yesus turun ke dunia, orang Kristen tidak memiliki Allah. Yesus tetap Allah dan punya hak kekuasaan yang dapat digunakan di dunia, namun Dia memilih untuk tidak mempergunakannya. Misalnya, Kristus bisa saja memanggil malaikat untuk menghalau tentara Romawi yang ingin menangkapNya, namun Dia tidak menggunakannya. Ini adalah wujud dari keteladanan ketaatan Kristus dengan melepaskan kenyamanan demi kerajaan Allah.
2. Mengosongkan Diri dengan Menjadi Hamba
Ayat 7: melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Pengertian "mengosongkan diri" sebenarnya sederhana: Kristus menjadi manusia dan hamba. Bukan sebatas manusia biasa, tetapi sebagai hamba. Yesus Kristus sebagai Allah yang sejati berkuasa mengampuni dosa, dan "mengosongkan diri" bukan berarti berhenti menjadi Allah, melainkan Ia menambahkan hakikat manusia ke dalam diriNya (Bdk. Mat 4:2; Yoh 19:28; Mat 26:37-38; 27:50). Yesus merasakan apa yang dirasakan manusia, yaitu lapar, haus, takut, sedih, bahkan maut. Terlebih, Yesus "mengambil rupa seorang hamba", yakni kasta paling rendah yan tugasnya hanya melayani, dan tidak memiliki hak apapun. Teladan ini bukan hanya sebagai pengingat bagi kita, tetapi juga sebagai perintah untuk belajar kerendahatian sejati, bukan karena merasa diri lebih rendah, tetapi dengan menganggap orang lain lebih utama.
3. Taat sampai Mati di Kayu Salib
Ayat 8: Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Puncak kerendahatian Kristus adalah ketaatanNya sampai mati di kayu salib. Banyak yang bertanya kenapa Kristus harus mati di kayu salib? Kenapa tidak ditikam, dirajam, atau cara mati yang lain? Salib pada waktu itu adalah dianggap sebagai kutukan yang paling sadis dan mengerikan. Di dalam kematian Salib, kesakitan dan kehinaan yang membunuh perlahan sampai di akhir hidupNya. Natal tidak berarti tanpa Jumat Agung dan Paskah, sebagai wujud ketaatan dan puncak kerendahatian Kristus. Ia tidak hanya menjadi hamba, tetapi juga merengkuh kematian yang paling hina dan menyakitkan.
Di saat kita merasa menderita atau dihina karena iman, ingatlah bahwa Yesus telah menempuh jalan yang jauh lebih rendah bagi kita. Penderitaan kita tidak pernah luput dari perhatianNya karena Ia telah merasakannya sendiri.
Konfirmasi Allah Bapa tentang Ketuhanan Yesus Kristus
Orang-orang yang membenci Yesus dan menyalibkanNya akan mengutuk dan menuduh bahwa Yesus adalah nabi palsu dan menghujat Allah. Jika memang benar Yesus adalah nabi palsu, maka tuduhan ini akan semakin menguat setelah kematianNya yang hina. Namun kenyataannya, Allah membangkitkan Kristus dan Dia menang dari maut. Dan hingga sekarang, justru Kekristenan berkembang pesat seiring pemberitaan tentang Keselamatan yang telah dianugerahkan oleh pengorbanan Kristus.
1. Peninggian dan Nama di Atas Segala Nama
Ayat 9: Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
Nama adalah sesuatu yang sangat berharga dan berarti. Nama diberikan dengan harapan. Di dalam Perjanjian Lama, nama juga adalah sesuatu yang penting, apalagi nama Tuhan YHWH adalah nama yang sakral. Nama Yesus, sebagai Allah, yang pada mulanya adalah Allah (tidak berubah menjadi Allah), mempunyai segala kuasa dan mengatasi segala nama. Posisi ini menempatkan Yesus sebagai Yang Maha Kuasa. Peninggian ini membuktikan bahwa kerendahatian di hadapan Allah selalu menghasilkan pemuliaan pada akhirnya. Ketaatan Yesus pada akhirnya memberikan suatu pujian: nama segala di atas segala nama.
Allah memberikan kepada Yesus "nama di atas segala nama", ini adalah konfirmasi bahwa Yesus adalah Allah. Walaupun dunia melihat Yesus lemah, tetapi yang sebenarnya Yesus memiliki otoritas tertinggi di atas seluruh ciptaan. Pembelaan dan peninggian datangnya bukan dari manusia, tetapi dari Tuhan Allah Bapa sendiri.
2. Pengakuan Semesta: Yesus adalah Tuhan
Ayat 10-11: segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Pada waktu itu, penggunaan kata "Tuhan" atau Kurios tidak boleh diterapkan sembarangan kepada seseorang, karena kata Tuhan memiliki makna politis dan teologis. Maknya politis, kata Tuhan hanya boleh diperuntukkan bagi Kaisar (pemimpin) atau yang mengatur pemerintahan. Makna teologis, kata Tuhan berbicara tentang penguasa alam. Tuhan Yesus lebih dari sekedar Kaisar atau penguasa dunia. Yang akan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bukan hanya manusia, tetapi semua makhluk "yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi" (Ayat 10). Ini mencakup manusia, malaikat, dan roh-roh jahat. Roh-roh jahat pun sudah mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, namun mereka tidak menghasilkan penyembahan kepada Kristus. Jikalau kita manusia sudah mengetahui kebenaran ini, kelak seluruh dunia akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, waktunya belum terlambat untuk mengakuiNya bukan hanya dari ucapan, tapi melalui tindakan. Seringkali bibir kita memuliakan Tuhan tetapi hati kita jauh dari Tuhan. Hendaknya sebagai umatNya yang telah diselamatkan, kita tidak hanya memuliakan Dia melalui kata-kata kita, tetapi juga melalui tindakan kita.
Jika Sang Raja semesta alam saja bersedia melepaskan hakNya dan menjadi hamba bagi kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk hidup dalam kesombongan atau mempertahankan ego di hadapan sesama. Kerendahatian Kristus mengajarkan kita untuk bersedia menjadi hamba, tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan keberadaan kita.
Comments
Post a Comment