God Sets the Time | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
God Sets the Time
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
14 September 2025
Pernahkah kita bergumul tentang apa arti hidup kita?
Dampak apa yang kita buat selama hidup, untuk apa semua yang diperjuangkan, dunia tetap sama dengan ada atau tidak adanya kita, hidup seperti sebuah siklus belaka.
Pencarian terhadap rasa keberhargaan merupakan bagian hakiki dari manusia sebagai Gambar Allah. Yang salah adalah berusaha mencarinya di luar Allah.
Pengkhotbah 3:1-11 (TB) Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Paralelisme 4 Baris
Pada saat dibuat, puisi ini dalam konteks peperangan, bukan figuratif namun literal.
Ayat 1
Ayat 2
Ayat 3
Ayat 4
Ayat 5
Ayat 6
Ayat 7 : ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara >> respon terhadap penderitaan atau kematian akibat perang (bdk. Kejadian 37:29,
Ayat 8 :
Mengapa Pengkhotbah memakai puisi yang berkaitan dengan peperangan?
Jika ada Allah, mengapa begitu banyak kematian?
God whispers to us in our pleasures, speaks in our conscience, but shouts in our pains: it is His megaphone to rouse a dear world (C.S. Lewis)
Ada banyak hal yang berada di luar kontrol kita. Banyak hal yang akan tetap terjadi, terlepas dari harapan kita, tidak peduli bagaimana usaha kita.
Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
Jika banyak hal di luar kontrol kita, yang diperlukan bukan "mengontrol sebanyak-banyaknya", melainkan "berserah kepada Allah sepenuhnya."
Ketidaktahuan bukan selalu tanda kebodohan, tetapi bisa jadi sebuah jalan menuju kerendahhatian
Bagaimana respon kita?
1. Meyakini pengaturan ilahi yang terbaik
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (3:11a, NASB "appropriate", NRSV "suitable" >> bukan "akan" tetapi "telah"). God has set the time, dan itu baik untuk kita.
2. Melihat dari perspektif yang lebih luas
"Bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka (3:11) -- bahasa Ibrani (ōlam) = lit. "waktu yang sangat jauh", bisa dulu atau nanti (bdk. NRSV "a sense of past and future").
Soren Kierkegaard: life must be lived forward but can only be understood backward.
3. Belajar berdamai dengan pertanyaan
" Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir" (3:11c, bdk. Yesaya 55:8, Ayub 4:23)
Iman yang benar selalu mencakup pengetahuan dan ketidaktahuan. Pengetahuan, supaya iman memiliki landasan. Ketidaktahuan supaya iman memiliki ruang untuk latihan.
Percayalah segala penentuan Tuhan itu baik.
Comments
Post a Comment