Worldly Pleasure or Theocentric Enjoyment | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Worldly Pleasure or Theocentric Enjoyment
(Kesenangan Duniawi atau Kesukaan yang berpusat pada Allah
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
13 Juli 2025


I love Monday atau Thank God It's Friday? 
Bagi sebagian orang, bersenang-senang di dalam pekerjaan adalah hal yang tidak mudah. Ada orang yang menganggap liburan hanya mengganggu pekerjaan. Seharusnya kita menikmati kesenangan di dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan. 

Pengkhotbah 2:24-26 (TB) Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah. 
Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? 
Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.  

Terdapat dua hal yang seolah-olah berkontradiksi:
1. Ayat 23
Pengkhotbah 2:23 (TB) Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun sia-sia. 

2. Ayat 24
Pengkhotbah 2:24 (TB) Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah. 

Memberi kesenangan, walau bukan sumber kebahagiaan. Pada zaman dulu, makan minum adalah tanda kesenangan, perayaan. Bersenang-senang secara literal "menunjukkan jiwanya baik" (tōv) (YLT/KJV) --> "enjoyment" (RSV/NSRV/ESV) atau "satisfaction" (NIV/NLT), bukan "terlepas dari" pekerjaan, tetapi "di dalam" pekerjaan. Seharusnya kita memandang pekerjaan kita secara senang hati "find enjoyment in labor". Dalam perspektif Alkitab secara umum, pekerjaan bukanlah beban. Pada saat Tuhan memberi pekerjaan kepada manusia, pada mulanya bukan sebagai beban tetapi salah satu wujud kesenangan. Setelah jatuh ke dalam dosa, pekerjaan seringkali menjadi beban dan menyusahkan.

Theocentric Enjoyment
Bagaimana kita dapat merasakan kenikmatan dalam hidup kita? 
Apa bedanya dengan orang-orang dunia yang mencari kesenangan (hedonis)? 
Alkitab tidak menawarkan kenikmatan duniawi melainkan yang berpusat kepada Allah. 

1. Allah adalah sumber kenikmatan (2:24b) 
Godaan besar bagi kita adalah menganggap kenikmatan yang dirasakan diperoleh dari jeriu payah sendiri --> kita bekerja (sendiri), lalu menikmati hasilnya (sendiri). Seharusnya kita menikmati pekerjaan kita tanpa menunggu untuk kehilangan atau mendapatkan pekerjaan yang lain. Atau kita juga seharusnya mendapatkan kesenangan pada saat bekerja, bukan hanya pada saat mendapatkan hasil dari pekerjaan kita. Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa semua berasal dari Allah. Yang membawa kesenangan seharusnya sumbernya, bukan hasilnya. Selalu ingat bahwa Allah adalah sumber kesenangan kita. Jika pekerjaan maupun hasilnya adalah dari Allah, kita bisa menikmati apa saja pekerjaan kita, tidak peduli seberapa banyak hasilnya. Jangan membandingkan keberhasilan kita dengan orang lain. 

2. Tidak ada kenikmatan di luar Allah (2:25) 
Godaan besar lainnya adalah melihat Allah hanya sebagai salah satu sumber kesenangan, tetapi bukan satu-satunya sumber. Ini menjadikan Allah setara dengan berkat-berkatNya. Allah tidak pernah meminta untuk dijadikan nomor satu, tetapi Allah meminta untuk dijadikan satu-satunya. 

God is most glorified in us when we are most satisfied in Him (John Piper) - buku Desiring God. 
Mazmur 73:26 (TB) Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. 
Semua yang kita punya suatu kelak akan terlepas dari tangan kita. Pada akhirnya kita akan menyampahkan apa yang semula berharga bagi kita. 

3. Allah bukan hanya memberikan kesenangan (2:26) 
Tidak seperti yang ditawarkan dunia, kenikmatan teosentris bersifat holistik: panca indera dipuaskan, tetapi akal budi tetap menjaganya. Biasanya kesenangan duniawi melalaikan akal budi. Tetapi Alkitab menawarkan kesenangan dengan hikmat dan akal budi. 

Perenungan selama menikmati kesenangan:
1. Apakah jenis kewenajgan sesuai firman Tuhan? 
2. Apakah tetap bisa menikmati Tuhan (bahkan lebih mengenal Dia)? 
3. Apakah sesuai dengan kondisi finansial? 
4. Bagaimana kesenangan tetap membawa kemuliaan bagi Tuhan? 
5. Apakah mengingat & menyisihkan uang untuk sesama & pekerjaan Tuhan? 

"Orang-orang yang diperkenankan oleh Allah" (lit. "Baik di mata Allah") --> mereka yang memiliki perspektif teosentris dan berorientasi kepada kekekalan. 
Dikontraskan dengan:
- yang berjerih lelah tanpa Allah (2:26a) 
- ... 

Asketisisme: Teologi penderitaan
Hedonisme: Teologi kemakmuran

Lensa Injil
1. Kristus merengkuh pekerjaan - bukan hanya "anak tukang kayu" (Matius 13:55) tetapi "tukang kayu" (Markus 6:3) 
Penting bagi kita untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan panggilan dan talenta yang diberikan Allah. 
2. Bejerja bukan hanya untuk makan (Matius 6:31) 
3. Selama menanti istirahat di surga kelak (Wahyu 14:13, 21:4) kita harus bekerja sebaik mungkin "seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (Kolose 3:23). 






Comments

Popular Posts