Doa adalah Sebuah Peperangan | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Doa adalah Sebuah Peperangan
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
06 Juli 2025
Reformed Exodus Community
Efesus 6:18-20 (TB) dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,
juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,
yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.
Doa ibarat bahan bakar untuk sebuah mobil. Tidak peduli seberapa mahal mobil itu, tidak ada artinya jika tanpa bahan bakar. Begitu pula dengan hidup kita, yang sebagian besar kurang berdoa. Benar Allah berdaulat penuh atas hidup kita, tetapi bagaimana cara Tuhan membuat kita aman adalah menjadikan Roh Kudus memampukan kita untuk menaatiNya melalui doa. Allah membuat kita kuat dalam peperangan melalui doa. Doa bukan senjata, tidak ada senjata jenis tertentu yang dikaitkan dengan doa. Semua jenis senjata kuno sudah disebutkan di 6:12-17.
Doa bukan senjata tetapi penting sekali. Doa memiliki porsi pembahasan lebih panjang (6:18-20) oleh Paulus. Signifikansi doa dalam peperangan kuno adalah meminta kepada Tuhan (pada zaman dulu dewa-dewa kuno) sebelum berperang. Doa adalah ekspresi yang menyatakan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan.
Bagaimana seharusnya kita berdoa dan berjaga-jaga?
1) Berdoa
Ayat 8a (lit. "dengan segala doa dan permohonan berdoa di setiap waktu di dalam Roh" (kontra LAI:TB) --> 2 kata benda proseuche + deesis dan 1 kata kerja proseuchomai untuk penekanan.
a) Paulus menekankan berdoa "di setiap waktu" (en panti kairō) artinya bukan berdoa tanpa jeda tapi "berdoa sesering mungkin" bukan untuk mengabaikan pekerjaan-pekerjaan lain, tetapi sambil mengingat "pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat" yang dulu sudah kita gunakan secara sia-sia dalam dosa. Ketika Tuhan ingatkan kita untuk berdoa, kita harus berdoa. Setiap waktu adalah berharga sekaligus berbahaya, karena itu harus dikelola secara maksimal melalui doa.
b) Paulus menekankan doa "di dalam Roh" (en pneumati). Roh yang membawa kita kepada Allah (2:18) dan yang berdiam dalam kita (2:22, 5:18) menolong kita untuk menguji roh dan mengenali tipu daya iblis (6:11, 1 Tesalonika 5:19-21, 1 Yohanes 4:1). Kita harus membiasakan berdoa di dalam Roh dan peka akan pimpinan Roh Kudus, berdiri di atas Firman Allah.
2) Berjaga
Berdoa dan berjaga-jaga tidak bisa dipisahkan. Ayat 18b lit. "untuk tujuan itu, berjaga-jagalah juga dalam segala ketekunan dan permohonan untuk orang-orang kudus" (kontra LAI:TB) --> keterkaitan dengan berjaga-jaga = eis auto (ESV "to the end") "dalam segala ketekunan" (en pasē proskaterësei). Mayoritas versi Inggris "all perseverance" (bdk. LAI:TB "yang tak putus-putusnya") --> prokartereisesis = sebuah usaha yang besar untuk tetap melakukan sesuatu, bahkan di tengah kesulitan yang ada (Lauw-Nida)
"dalam segala permohonan" (en pasē deesis)
desis untuk diri sendiri dan untuk orang lain; "dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus (6:18b) juga untuk aku (6:19)". Tidak ada orang Kristen yang spesial atau uang tidak membutuhkan dukungan komunal. Paulus juga memerlukan dukungan doa, khususnya bagi pekabaran Injil. Pekabaran Injil sebagai salah satu bentuk peperangan rohani melawan Iblis.
Kebijaksanaan dan keberanian sama-sama diperlukan dalam penginjilan. Kita bukan penakut uang cerdik atau petarung yang bodoh.
Keterkaitan dengan Injil
1. Kristus sudah menaklukkan segala Roh melalui penebusanNya yang sempurna (1:19-23)
2. Kristus bertakhta di sorga dan selalu berdoa syafaat bagi kita (Roma 8:34)
Comments
Post a Comment