Lost at Home | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Lost at Home 
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Reformed Exodus Community
22 Februari 2026
Februari adalah bulan keluarga. Menurut survey UGM,  sebanyak 15.9 juta anak di Indonesia merasakan ketidakhadiran ayah (fatherless). Anak-anak perempuan seringkali mengalami kekerasan di dalam keluarga. Terlepas dari bagaimanapun keadaan keluarga kita, Tuhan mau memulihkan kita. 
Perumapaan tentang Anak Yang Hilang
Lukas 15:25-32 (TB) Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Perumpamaan tentang anak yang hilang tidak secara langsung berbicara tentang keluarga, tetapi tentang keselamatan. Kisah anak yang hilang dipahami dalam konteks relasi, oleh sebab itu Yesus memberikan tiga perumpamaan yakni dirham yang hilang, domba yang hilang, dan anak yang hilang. 

Kisah perumpamaan tentang anak yang hilang tidak berhenti pada pesta anak hilang yang kembali, namun diakhiri dengan konflik baru tentang anak sulung yang marah karena perayaan adiknya. Jenis sastra pada cerita ini adalah open closure, ajakan untuk filling the gap dan memikirkan perspektif dari masing-masing tokoh yang ditampilkan oleh narator, menampilkan dirinya sendiri, dan perspektif dari tokoh lain. 

Identifikasi Karakter Anak Sulung
1. Anak yang merasa sebagai budak
Penjelasan narator, sikap anak sulung, maupun perspektif Bapa menampakkan anak sulung sebagai budak. 
Aktivitas pertama yang dicatat tentang anak sulung adalah kegiatannya di ladang (15:25a "anaknya yang sulung berada di ladang"). 
Perkataan petama anak sulung: "Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa (douleuĊ) = "menghambakan diri" dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa (parercomai = NASB "mengabaikan", bdk 11:42 atau "melewatkan" bdk 18:37, 21:32-33) (15:29a).
Teguran halus dari Bapa "Anakku (bukan budak) engkau selalu (pantote) 

Bagi Allah, yang lebih penting adalah kehadiran kita untuk menikmati Dia, bukan banyaknya pekerjaan kita bagi Dia. Menikmati karya Allah menunjukkan relasi dengan Tuhan. 

2. Anak yang merasa sebagai orang luar
Baik posisi maupun sikap anak sulung menyiratkan bahwa dia adalah orang luar. 
"Ketika ia pulang dan dekat ke rumah (15:25), dia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya" (15:26). "Marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk (15:28)". Respon anak sulung marah dan tidak mau masuk rumah. 
Sang ayah mencoba berbicara kepadanya (15:28, "berkali-kali berbicara kepada dia; YLT " was entreating him"). 
Anak bungsu pernah menjadi orang luar (outsider), tetapi sekarang dia berada di rumah (insider). Anak sulung yang tidak pernah meninggalkan rumah (insider) kini memilih berada di luar rumah (outsider)

3. Anak yang merasa sebagai korban ketidakadilan
Cara berpikir legalistik membuat anak sulung merasa diperlakukan tidak adil. 
Anak sulung menggambarkan dirinya memberi keuntungan bagi ayah (15:29 "selalu melayani"), sedangkan anak bungsu merugikan ayahnya (15:30 "memboroskan harta kekayaan Bapa"). Anak sulung merasa menjadi anak yang baik "belum pernah aku melanggar perintah Bapa" (15:29) dan anak bungsu adalah anak yang nakal. 
Banyak orang Kristen menjadi kecewa karena pemikiran legalistik ini, yang sudah berbuat baik dan melayani Tuhan namun tidak menerima kebaikan dari Allah. Banyak orang Kristen merasa bad things happen to good people. Padahal sesungguhnya kita sangat jauh dari kata baik. 
"tetapi kepadaku belum pernah Bapa

Hari ini kita mencoba memikirkan keadilan Tuhan. Jika kita
Tidak ada di antara kita yang cukup baik di hadapan Tuhan. Jika itu diberlakukan oleh Tuhan, maka tidak ada seorangpun yang pantas menerima kasih karunia Tuhan. Kita seringkali berpikir bahwa keadilan itu sama rata. Adil berarti memberikan hak kepada yang membutuhkan. 

Si ayah masih memiliki hak atas hartanya (15:3) "segala kepinyaanku adalah kepunyaanmu"). Dia berhak memberikan pesta untuk siapapun. 
Si sulung juga berhak mengadakan pesta bagi dirinya atau teman-temannya. Dia tidak perlu menunggu untuk diberi anak kambing oleh ayahnya. Si sulung lupa tentang kasih karunia yang telah diberikan ayahnya. 

Kasih karunia dari Tuhan bukan menyalahi, melainkan melampaui keadilan. 
Kita bersyukur bahwa kasih karunia Allah tidak melanggar keadilan, tetapi melampaui keadilan. 

Apakah ketaatan hanya sebagai keharusan? (Budak) 
Apakah rumah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi kita? (Outsider) 
Apakah banyak tindakan orang tua dianggap merugikan dan merampas hak anak? (Korban ketidakadilan) 

Apakah perasaanmu memang absah atau selama ini engkau hanya memandang keadaan di keluarga dengan keliru? 
Apakah selama ini kita mengasihi atau menguasai? Relasional atau transaksional? Apakah kita peka terhadap perasaan atau sekedar memenuhi kebutuhan? Apakah selama ini taat karena kasih karunia dan kebenaran atau ketakutan dan penghakiman? 






Comments

Popular Posts