Homecoming | Ev. Karmelita
Homecoming
Ev. Karmelita
15 February 2026
Lukas 15:11-24 (TB) Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.
Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.
Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
Perumpamaan tentang anak yang hilang pada konteks masa itu, warisan diberikan kepada anak untuk bertanggung jawab dan mempergunakan warisan dengan baik. Dalam perumpamaan ini, anak ingin menghindari relasi dengan keluarga/ ayahnya. Yang diminta oleh anak adalah kebebasan tanpa aturan orang tua. Namun yang anak dapatkan justru kehilangan hidupnya. Anak yang hilang pergi dengan mimpi namun kembali dengan hampir mati. Dalam tradisi timur, jika ada anak yang membawa harta orang tua dan menghabiskan harta tersebut dengan tidak bertanggung jawab, anak akan mendapat sanksi sosial oleh masyarakat dan tidak boleh kembali ke dalam keluarga. Justru orang tua, khususnya Bapa, cintanya begitu kuat sehingga hatinya penuh belas kasihan. Bapak tidak memarahi anaknya tetapi justru bapak menyambut dan mengampuni anaknya. Bapa memberikan jubah yaitu kedudukan, cincin yaitu otoritas, dan sepatu yaitu status. His Father gave him dignity, authority, and identity.
Perumpamaan ini mengajarkan bahwa Allah itu baik, hidup tanpa Tuhan justru tidak ada apa-apanya. Seharusnya perumpamaan ini bukan tentang anak yang hilang tetapi perumpamaan tentang Allah yang penuh kasih.
Yohanes 3:16-17 (TB) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
Roma 5:8-9 (TB) Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
Yohanes 10:10 (TB) Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Comments
Post a Comment