Away From Home | Pdt. Edo Walla

Away From Home
01 Februari 2026
Pdt. Edo Walla
Reformed Exodus Community


Perumpamaan tentang Anak yang Hilang
Lukas 15:11-32 (TB) Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

Konteksk perumpamaan ini disampaikan Yesus saat para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

Karunia tidak selalu diresponi dengan benar, contohnya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang seharusnya memahami tentang anugerah Tuhan, bukannya menjangkau yang terhilang, tapi malah merasa benci terhadap yang berdosa. 

Ayat 11: Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.

Dalam konteks tersebut, Yesus menyampaikan tiga perumpamaan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Sikap anak bungsu yang meminta warisan di saat orang tuanya masih hidup, mencerminkan bahwa anak bungsu hanya peduli terhadap harta dan bukan relasi. Pada perumpamaan ini, Yesus tidak sedang mengkiritisi pola asuh orang tua, tetapi hati anak yang memberontak kepada orang tua. Anak gagal karena ingin lepas dari orang tua. Namun bagaimana dengan anak sulung yang juga berdosa? Padahal tidak terlepas dari orang tuanya. 

Dosa adalah kegilaan, dan justru awal mulanya terjadi di tempat yang paling kudus, yaitu sorga. 

Anak dari rumah paling kudus bisa menjadi pemberontak bukanlah bukti bahwa kekudusan gagal, melainkan bahwa dosa memang tidak rasional. Dosa tidak membutuhkan alasan, dosa hanya membutuhkan kehendak. 

Ayat 12: Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Anak bungsu pergi dari rumah bukan karena orang tua yang salah, tetapi anak yang harus pergi karena ingin bebas dan hidup seenaknya, tidak sesuai dengan aturan, batasan, dan nilai-nilai Kerajaan Allah yang ditanamkan oleh orang tuanya. Terjadi peperangan nilai: Bapa mencintai kekudusan namun anak membenci kekudusan. 

Hidup yang dipimpin oleh Tuhan dan hidup yang menolak Tuhan tidak bisa tinggal di bawah atap yang sama untuk waktu yang lama. Gelap tidak tahan dengan terang. Bukan karena terang kejam, tetapi karena terang menyingkapkan. 

Anugerah bisa ditolak, namun tetap memikat. Anak bisa kabur dari rumah hukum, namun dia sering mendapati dirinya merindukan rumah Anugerah - karena hanya Anugerah yang terasa seperti rumah. 

Ayat 13: Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 

Berfoya-foya digambarkan sebagai hidup yang tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, yaitu pola hidup yang tanpa hikmat, tanpa tujuan, dan tanpa arah. Itulah gambaran hidup di luar Tuhan. Namun mengapa Tuhan membiarkan manusia jatuh dalam dosa? Tuhan melepaskan untuk mendapatkan kembali. 

Kita adalah anak yang terhilang, jika kita menolak kasih karunia Allah. Ada pola dosa yang disengaja, terus menerus, dan mengakar begitu dalam, sehingga nasihat terbaik sekalipun tidak lagi mempan. Pada titik ini, "melepaskan" bukan tanda menyerah, melainkan tindakan iman. 

Hidup kita tidak ditentukan oleh keputusan orang lain. Ketaatan kita tidak sia-sia. Air mata yang kita taburkan tidak jatuh di tanah kosong. Tetap setia dan berharap kepada Tuhan. 
Saat orang tua memilih untuk hidup di dalam Anugerah, mereka bukan hanya disembuhkan, tetapi juga sedang membuka jalan agar anak-anak mereka mengenal Tuhan yang sama. 







Comments

Popular Posts