Struggle with Injustice | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Struggle with Injustice
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Reformed Exodus Community
09 November 2025
Manusia menghadapi dan masih berjuang dengan banyaknya ketidakadilan atas hukum yang telah dibengkokkan. Beberapa contoh ketidak adilan ditengarai adanya:
- krisis kebenaran
- normalisasi ketidakadilan
- jual beli keadilan
- politisasi hukum
Ketidakadilan juga muncul karena adanya double standard, "seperti justice for others, mercy for me". Kita sering kali meminta dikasihani atas pelanggaran kita, namun hukuman bagi pelanggaran orang lain.
Jika kasih adalah kebutuhan terbesar dan keadilan adalah wujud kasih yang terkecil, ketidakadilan merupakan pelanggaran kemanusiaan yang radikal.
Pengkhotbah 3:16-22 (TB) Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan.
Berkatalah aku dalam hati: "Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya."
Tentang anak-anak manusia aku berkata dalam hati: "Allah hendak menguji mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang."
Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.
Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu.
Siapakah yang mengetahui, apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi.
Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?
Dalam hal ini, Pengkhotbah / Kohelet membicarakan topik yang baru dari observasinya dengan perspektif kesementaraan.
Observasi Kohelet terhadap Ketidakadilan
"Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan (lit. "keadilan") , di situ pun terdapat ketidakadilan (lit. "kebenaran") dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan." Di sini kebenaran dan keadilan disandingkan, saling berkaitan namun tidak bertentangan. Keadilan dan kebenaran dibedakan, namun tidak bisa dipisahkan. Keadilan adalah secara legal, dan kebenaran adalah secara moral.
Bagaimana respon kita terhadap ketidakadilan?
Respon 1: Meyakini Penghakiman Ilahi
Berkatalah aku dalam hati: "Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya."
Secara Teologi, kita tahu bahwa Allah itu adil, namun kita tidak tahu kapan Allah mengadili.
Antara keyakinan (teologi) dan kesabaran (realisasi). Antara pengetahuan (sifat Allah) dan ketiidktahuan (manifestasinya).
Respon 2: Menjalani Ujian Ilahi
Tentang anak-anak manusia aku berkata dalam hati: "Allah hendak menguji (barar, lit. "Memurnikan").)mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang.
Penundaan hukuman sebagai ujian: Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh dengan niat untuk nerbuat jahat (8:1, Mam 73:2-5, Habakuk 12:4) ->> kehilangan sense of Justice (kehilangan rasa kemanusian).
Iman bukan hasil pertimbangan atas keadaan, melainkan keyakinan tak tergoyahkan terhadap sifat TUHAN.
Tanpa keadilan, manusia sama dengan binatang >> kematian, keselamatan, kesia-siaan dan keesementaraan. Oleh sebab itu Allah menguji moral manusia melalui waktu.
Pengkhotbah 3:19 (TB) Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.
Jika tidak ada petunjuk tentang keadilan dalam kesementaraan (sekarang), bagaimana bisa meyakini ada keadilam di kekekalan (yang akan datang?)
Pengkhotbah 3:21 (TB) Siapakah yang mengetahui, apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi.
Cara pandang "di bawah matahari" akan menghasilkan gaya hidup apatis, pesimis, atau hedonis. Padahal, Allah sudah membuktikan keseriusanNya terhadap ketidakadilan melalui salib Kristus.
Roma 3:25-26 (TB) Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.
Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.
Worth the Wait
Kohelet menutup kitabnya drngan sebuah pernyataan yang indah:
Pengkhotbah 12:14 (TB) Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.
Comments
Post a Comment