WONDERFUL REVERSAL, MEANINGLESS ENDING | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
WONDERFUL REVERSAL, MEANINGLESS ENDING
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
10 Mei 2026
Ada yang kenal pemenang Nobel tahun lalu?
Tidak. Padahal mereka sudah memberikan kontribusi yang luar biasa. Seringkali orang ingin mencari prestasi agar memperoleh ketenaran. "Stardome syndrome" seringkali dihadapi oleh orang yang berada di atas dan merasa bahwa di atas adalah segalanya. Kenyataannya, apa yang dikejar selama ini sesungguhnya sia-sia.
Pengkhotbah 4:13-16 (TB) Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi.
Karena dari penjara orang muda itu keluar untuk menjadi raja, biarpun ia dilahirkan miskin semasa pemerintahan orang yang tua itu.
Aku melihat semua orang yang hidup di bawah matahari berjalan bersama-sama dengan orang muda tadi, yang akan menjadi pengganti raja itu.
Tiada habis-habisnya rakyat yang dipimpinnya, namun orang yang datang kemudian tidak menyukai dia. Oleh sebab itu, ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
Seringkali manusia hanya melakukan banyak hal tanpa berhikmat, tanpa berdiam dan merenung dan berpikir. Kebijaksanaan lebih penting dari kekayaan dan kekuasaan.
Kohelet atau Pengkhotbah selalu mengamati dan membandingkan segala sesuatu:
- kesia-siaan kesendirian (4:7-8)
- berdua lebih baik daripada seorang diri (4:9-12)
- miskin dan berhikmat lebih baik daripada berkuasa tetapi tidak mau diajar (4:13-16)
Signifikansi Hikmat - bahwa hikmat itu penting
Pengkhotbah 4:13
Raja yang sendirian tanpa para penasihat (Pengkhotbah 4:7-12) adalah hal yang janggal karena seharusnya raja memiliki penasihat atau penatua agar lebih berhikmat melalui pendapat orang lain. Lalu kenapa orang muda miskin yang baru keluar dari penjara justru memiliki masa depan yang lebih baik? Karena orang muda ini memiliki hikmat dan teachable spirit.
Amsal 12:15 (TB) Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.
Amsal 15:22 (TB) Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.
Amsal 11:14 (TB) Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.
Banyak penafsir yang menganggap bahwa orang muda yang dimaksud Kohelet adalah Yusuf di Mesir. Setelah dipenjara >2tahun (Keluaran 41:1), Yusuf diangkat sebagai penguasa (Keluaran 41:41) pada waktu berusia 30 tahun. Dia disebut sebagai "penguasa" (Shalit, Mangkubumi)
Kebijaksanaan mengalahkan pengalaman. Tua belum tentu berhikmat. Yang penting bukan jumlah pengalaman, tapi jumlah pelajaran yang dipetik dari pengalaman. Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.
Kita tidak dilahirkan secara sama, tetapi semua ditawarkan hikmat sebagai solusi yang sama. Bukan "kehidupan seperti apa", melainkan "bagaimana menjalaninya".
Limitasi Hikmat - bahwa hikmat itu terbatas
Hikmat bisa membawa kita mencapai keberhasilan, tetapi belum tentu membuat kita berada di situ terus (Pengkhotbah 4:15-16).
I have seen all the living, who are walking under the sun, with the second youth who do that stand in his place (YLT). "The second youth" bukan berarti orang muda yang kedua, tetapi orang-orang lain (companion) yang bersama-sama dengan dia (4:8, 10). Pada saat orang muda menjadi raja, orang muda ini menjadi objek pencarian banyak orang - kemudian berbalik menjadi objek kebencian banyak orang. Orang muda ini tidak melakukan kesalahan ataupun perubahan karakter. Namun hidupnya akhirnya menjadi tragedi karena dilupakan orang. Begitu pula dengan hidup kita yang penuh tragedi, tanpa salib dan kubur kosong. No matter how big our achievements are, without Christ all is nothing.
Pengkhotbah 2:16 (TB) Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!
Pengkhotbah 9:15 (TB) di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu.
People are fickle and may cast their palms before a new arrival, only to cry 'crucify Him!' few days later. (Michael A. Eaton).
Jika semua orang pada akhirnya akan dilupakan, berhasrat untuk membuat banyak orang terkesan merupakan kesia-siaan.
Lalu bagaimana seharusnya kita hidup?
Yaitu mengejar nilai-nilai kekal dengan cara melakukan apa saja sebahai aktivitas di dalam Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan.
1 Korintus 15:58 (TB) Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Comments
Post a Comment