THE MEASURE OF CHRIST'S GIFT | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
THE MEASURE OF CHRIST'S GIFT
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
14 May 2026
Bukankah Tuhan memberikan talenta yang berlimpah pada setiap orang? Jika setiap orang melayani secara optimal sesuai talenta masing-masing, maka gereja tidak perlu mencari-cari talenta melalui rekruitmen, bahkan talenta yang tidak akan mubazir atau sia-sia karena tidak dioptimalkan.
Efesus 4:7 (TB) Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.
Sebelum ayat ke-7, Paulus berbicara tentang kesatuan (satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah Bapa- ayat 4-6). Setelah ayat ke-7 sampai 16, adalah satu kalimat panjang dalam teks Yunani. Diawali dan diakhiri dengan beberapa kata yang sama: "satu", "tiap-tiap", "ukuran".
Sifat-sifat Karunia
1. Individualized: tetapi kepada kita masing-masing (heni de hekastõ) telah dianugershlaj kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus (4:7).
Tuhan tidak pernah lupa atau salah memberikan talenta. Dia tau "di mana" dan "dengan apa" masing-masing kota. Alam memuliakan namaNya.
2. Gracious: Tetapi kita masing-masing telah dianugerahkan (didōmi) kasih karunia (charis; bdk. Charisma) menurut ukuran pemberian (dōrea) Kristus.
Mengapa tiga kata tersebut? Prinsip yang sama walau karunia berbeda. Setiap karunia yang kita miliki selalu melibatkan 3 hal itu: Didōmi, hanya pemberian. Charis, hanya karena kasih karunia. Dōrea, pemberian, bukan upah, bukan atas apa yang kita lakukan. Walaupun talenta diberikan kepada setiap orang, itu bukan berarti jatah atau upah, tetapi anugerah, karena kita tidak layak menerimanya tetapi diberikan kepada kita. Tidak ada yang kita punya yang tidak kita terima dari Dia. Dari semua yang kita terima, tidak ada yang kita layak untuk mendapatkannya.
3. Abundant: tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran (netron) pemberian Kristus (4:7) >> artinya "batasan" (Roma 12:3; 2 Korintus 10:13; Efesus 4:16) tetapi batasannya adalah "pemberian Kristus".
Roma 8:32 (TB) Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
Kalau memang Allah memberikan karuniaNya secara individualized, gracious, and abundant, maka seharusnya tidak ada gereja yang kekurangan talenta atau karunia. Yang ada adalah pengabaian, pengerdilan, atau penyalahgunaan oleh mayoritas anggotanya.
Jika karunia atau talenta diberikan atas dasar kurban Kristus yang sempurna (kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke sorga), masihkah kita mengabaikannya atau menggunakannya dengan cara yang seadanya?
Comments
Post a Comment