Proper Time, Proper Response | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Proper Time, Proper Response
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
12 Oktober 2025
Hidup itu seperti sebuah rajutan di mata orang lain yang melihatnya. Ada pola, tetapi tidak tahu gambaran besarnya.
Kita tahu Allah itu baik. Kita tahu bahwa Allah mengerjakan kebaikan. Tetapi kita seringkali tidak tahu apa rencana besarNya. Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Banyak orang salah paham, seolah-olah Allah "akan" membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Padahal sebetulnya Allah "telah" membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Tidak ada seorangpun yang bisa memahami rencana Allah.
Untuk segala sesuatu ada waktunya
Ayat 1:11 merupakan sebuah pertentangan antara mengetahui (teologi) dan memahami (situasi).
Pengkhotbah 3:1-11 (TB) Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Gregory of Nyssa (335-395 M)
For all eternity He put in men's hearts the fact that they might never discover what God has done from the beginning right to the end" (Homilies of Ecclesiastes, 79)
God is knowable, but He is incomprehensible.
Bagaimana respon kita dalam:
1. Menikmati berkat dari Allah
1.1. Bersukacita atas hal-hal yang sederhana
Ayat 12: Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik (tôb) dari pada bersuka-suka (rejoice) dan menikmati kesenangan (do good, āsâh tôb, lit. "melakukan kebaikan") dalam hidup mereka.
Ayat 13: Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya (eats & drinks sees good in all his labor, tôb), itu juga adalah pemberian Allah.
Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Ayat 14: Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.
Kehadiran Allah (yang sederhana) seringkali tidak kita lihat karena kita terlalu getol dengan mujizat (yang luar biasa).
1.2. Melakukan kebaikan melalui pekerjaan
Ecclesiastes 3:12-13
12 I know that there is nothing better for them than to rejoice and to do good in one’s lifetime; 13 moreover, that every person who eats and drinks sees good in all his labor—this is the gift of God
Apa hubungan pekerjaan dengan kemuliaan Tuhan? Pekerjaan kita memiliki nilai intrinsik yang harus kita ketahui. Bukan sekedar menjadi teladan, atau menghasilkan uang dan memberikan untuk Gereja. Kita harus tau berharganya pekerjaan kita, apa yang kita kerjakan untuk kemuliaan Tuhan. Kita seharusnya bisa bersukacita dengan pekerjaan kita, sehingga berdampak positif bagi hidup orang lain, menghadirkan nilai-nilai kerajaan Allah dalam pekerjaan kita. Pekerjaan bukan sebuah beban, melainkan sarana menebar kebaikan.
Pemberian Allah yang terbesar
Roma 8:32 (TB) Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
2. Menghormati Tuhan yang Berdaulat
Ayat 14: Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.
Ayat 15: Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.
Allah bukan hanya secara prerogatif menetapkan segala sesuatu sejak kekekalan, tetapi Dia juga secara aktif bekerja dalam kesementaraan (bdk. 3:15b "Allah mencari (lit. God seeks) yang sudah lalu.)
Segala sesuatu dalam hidup kita sudah ditetapkan oleh Allah. Semua terjadi seturut waktunya Tuhan. Tidak ada yang terjadi dalam hidup kita secara kebetulan.
Menghormati Allah berarti mengakui kemanusiaan kita. Dia adalah Allah, kita bukan. Inilah kebenaran yang membebaskan. (Let God be God)
He is not only a God; He is the good God. His love is sovereign. His sovereignty is lovely.
Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, lebih dari kita sendiri tahu apa yang baik untuk. Kiya
Jika Kristus sudah rela merengkuh kemanusiaan kita, mengapa kita justru ingin berperan sebagai Allah untuk menggantikan Dia?
Comments
Post a Comment