Hak untuk Melepaskan Hak | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Hak untuk Melepaskan Hak
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
05 Oktober 2025
Reformed Exodus Community
"The money you save is not worth the honor you compromise" (Charlie Kirk)
Kadangkala kita memegang satu hal yang bersifat jasmani, yang tidak terlalu penting, namun mengkompromikan atau bahkan melepaskan yang rohani, atau hal lain yang lebih penting.
1 Korintus 9:15-18 (TB) Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satu pun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya aku pun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada ...! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapa pun juga!
Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.
Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Kadangkala kita harus melepaskan hak kita agar tidak menjadi baru sandungan bagi orang lain. Di ayat yang kita baca, Paulus sedang memberi contoh, sebagaimana kita tahu bahwa jemaat di Korintus tidak semuanya menyukai Paulus. Jemaat mengkritik status kerasulan Paulus dan motif pelayanan Paulus. Jemaat Korintus menganggap Paulus mempunyai tujuan tersembunyi.
"Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengeritik aku" (9:3)
Secara logis (9:6-7) maupun teologis (8:14), Paulus berhak mendapatkan tunjangan: "Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar?" (9:12a). Namun demikian Paulus melepaskan semua haknya demi kemuliaan Allah.
Hak yang paling jarang diperjuangkan adalah hak untuk melepaskan apa yang selama ini diperjuangkan, demi kemuliaan Tuhan. Musuh keadilan adalah perampasan hak (oleh orang lain), bukan pelepasan hak (oleh kita). Paulus lebih memilih melepaskan apa yang menjadi haknya.
Paulus memberikan jawaban yang personal dan emosional atas melepaskan haknya:
- Paulus mengubah kata ganti "kami" atau "mereka" (9:12-14) kembali ke "aku" (9:15-18)
- Kata "aku" (9:15a) di teks Yunani dj awal dan diulang (egō)
- Paulus tidak sempat menyelesaikan salah satu kalimatnya (9:15b) "Sebab aku lebih suka mati daripada..") . Paulus lebih memilih kemegahan daripada tunjangan yang seharusnya diterimanya.
1 Korintus 9:16 (TB) Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.-->> anakku gar moi epikeita = RSV/KJV/YLT "necessity is laid upon me". Berarti yang dimegahkan Paulus bukan memberitakan injil, karena itu adalah sebuah keharusan. Paulus memecahkan Injil itu sendiri, dan tidak memegahkan kontribusinya bagi Injil.
1 Korintus 1:30-31 (TB) Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."
1 Korintus 9:17 (TB) Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku.
Paulus memberitakan Injil sebagai keharusan, tetapi bukan keterpaksaan. Lantas apa yang dimegahkan Paulus?
1. Paulus dipercaya sebagai penatalayan (9:17)
Penatalayanan (stewardship) dan penatalayan (Steward) --> tugas untuk mengurus yang dipercayakan (oikonomian, oikonomos, bdk. Eliezer bagi Abraham, dan Yusuf bagi Potifar).
Paulus bermegah bukan hanya memberitakan Injil, tetapi dianggap dapat dipercayai dalam memberitakan Injil.
1 Korintus 4:1-2 (TB) Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan (oikonomos) rahasia Allah.
Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai (pistos).
Pelayanan membutuhkan orang yang berintegritas lebih daripada orang yang sekedar antusias.
2. Melayani tanpa berfokus pada upah (9:18)
1 Korintus 9:18 (TB) Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Oikonomos bukan budak. Budak tidak mendapatkan gaji, hanya hidup. Sedangkan oikonomos, atau penatalayan, berhak mendapatkan upah. Namun Paulus tidak mau menerima upah dari jemaat di Korintus. Ini adalah sindiran halus untuk jemaat Korintus yang seringkali mengkritisi Paulus, sehingga upah tersebut menjadi batu sandungan. Paulus melayani Tuhan, bukan jemaat Korintus.
Paulus tetap mendapat upah, tetapi dari TUHAN. Upah dalam pelayanan, baik dari manusia maupun Kristus, hanyalah bonus, bukan fokus.
Paulus memiliki hidup yang meneladani Kristus. Kristus memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang, bukan hanya untuk melaksanakan rencana Bapa, tetapi juga karena Dia mengasihi kita.
Hak apa yang Anda perlu pertimbangkan untuk dilepaskan supaya Kristus lebih dimuliakan?
Comments
Post a Comment