Fragile but Durable | Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.

Fragile but Durable
Pdt. Yakub Tri Handoko, Ph.D.
Reformed Exodus Community (REC) 


Apa yang kita lakukan apabila memiliki barang pecah belah? Pasti menjaga secara overprotective
Tetapi tidak demikian cara Tuhan memperlakukan umatNya yang fragile.

Tidak semua orang pandai dan bijak dalam mengelola kekuatannya maupun kelemahannya : menyombongkan kekuatan, memanipulasi kelemahan. 

2 Korintus 4:6 (TB)  Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.  

Semua yang Tuhan taruh dalam diri kita adalah terang dari pengetahuan tentang kemuliaan, tetapi di dalam sebuah bejana tanah liat. Yang berharga adalah isinya, bukan bejananya.

2 Korintus 4:7-12 (TB) Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 
kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 
Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.
Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 

Kenapa Bejana Tanah Liat? 
Paradoks Kekuatan dalam Kelemahan 
Metafora diambil dari dua sumber 
#1 Tradisi parade kemenangan orang Yunani- Romawi Kuno, yakni barang-barang yang berharga disembunyikan pada bejana tanah liat yang tidak berharga. 
#2 Kisah penciptaan manusia dari tanah liat (Kejadian 2-3) --> tanah liat memang berbicara tentang sifat manusia yg lemah, hina, dan sementara. Di taman Eden ada sungai Pison yg terdapat banyak emas yg berharga, tetapi Tuhan justru membuat manusia dari tanah liat. 

Fungsi Bejana
Bejana hanya berfungsi sebagai wadah saja. 
- ayat 7 : "supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." Walaupun kita bejana tanah liat yang lemah, tetapi Tuhan memberikan kekuatan. Seringkali kita bersaksi namun tidak pernah menceritakan kelemahan kita, melainkan kekuatan kita dalam melalui prosesnya, sehingga kesaksian Tuhan "terlewatkan", bukan tentang Tuhan tetapi tentang kita. Sehingga hasil dari kekuatan ilahi terlihat tidak spektakuler (ayat 12:11-12) 
- tidak terjepit (4:8a) 
- tidak putus asa (4:8b) 
- tidak ditinggalkan (4:9a) 
- tidak binasa (4:9b) 


Tulisan yang dialami oleh Paulus:
- ditindas, ditekan (thlibo) berkaitan dengan penderitaan (1:6) atau kesusahan (7:5) 
- dalam segala hal = sangat beragam jenis penderitaannya (11:23-28) 
- terjepit / terhimpit (stenochoreo) lebih banyak berhubjjham dengan sesuatu yamh sempit (6:12, Yos 17:15, Yes 28:20, 49:19) -- perbanyak bersyukur, karena masih ada ruang
- "habis akal" (aporeo) = kebingungan yang menimbulkan keraguan utk mengambil sebuah pilihan keputusan atau tindakan (Mrk 6:20, 24:4, Yoh 13:22, Kis 25:20, Gal 4:20). Terjemahan mayoritas versi "perplexed". Paulus belajar untuk tidak putus asa, bahkan di tengah kelemahan (1:8) dan kebingungan (4:8) 
- "dianiaya" (dari kata "dioko") artinya "mengejar" secara terus menerus (1 Kor 14:1, 15:9), dikejar penderitaan
- tidak ditinggalkan, "meninggalkan" (enkatoleipo) = membiarkan (Kis 2:27, 31), meninggalkan (2 Tim 4:10) 
- dihempaskan namun tidak binasa - "dihempaskan" (dari kota = ke bawah dan ballo = melemparkan) --> versi Inggris : cast down, knock down. Tidak peduli seberapa keras kita dilemparkan, kita tetap jatuh di tangan Tuhan. Yang lebih penting adalah penyertaan oleh Allah daripada kelepasan dari masalah. Selalu ada solusi dari Allah, tetapi belum tentu sesuai dengan prediksi atau ekspektasi kita. 

Manusia merasa persoalan terlalu berat, bukan karena masalahnya yang terlalu besar, tetapi manusianya yang kurang dewasa dalam menghadapinya. 

Injil sebagai Paradoks Sempurna tentang Kekuatan dalam Kelemahan
2 Korintus 4:10-11 (TB) Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

- ayat 10a :  Paulus secara aktif "membawa" kematian Kristus: pada saat menderita tidak mengeluh atau bersungut-sungut. Semakin menderita, semakin dekat persekutuamndekham kematian Kristus
- ayat 11a : Pasif (Divine Passive) : Allah sebagai subjek implisit yang membawa kepada penderitaan 

Injil Tercermin juga dalam Hasil Pelayanan
- ayat 12 
2 Korintus 4:12 (TB) Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 
Seharusnya hidup kita seperti Injil, berkorban dan menderita supaya bisa memperkaya orang lain. 



2 Korintus 13:4 (TB) Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah. 

Penderitaan yang kita alami tidak akan melebihi penderitaan yang Kristus alami untuk menebus kita. 

Percayalah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Amin. 

Comments

Popular Posts