Sola Gratia
Aku selalu ingin menceritakan kesaksian ini, sebab hanya oleh kasih karuniaNya aku dapat hidup hingga detik ini.
Pada 24 Oktober 1994,
Tuhan mengirimku ke dunia ini sbg seorang bayi yg lahir dari rahim
seorang ibu, di sebuah rumah sakit di Jember.
Persalinan pada
saat itu tidak berlangsung mudah, sempat terjadi insiden yg menyebabkan
jabang bayi tidak terlahir dengan normal.
Dokter memvonis bayi tsb tidak akan bertahan hidup. Dan jikalau dia
hidup, dia akan menjadi anak yang cacat mental/idiot. Tentu kedua
orangtuaku sangat terpukul dan hancur hati, tapi mereka tdk pernah
berhenti berharap kepadaNya.
Karena kasih dan kemurahan Tuhan yg mendengar seruan doa yg tdk pernah terputus dari kedua orangtuaku, mujizat pun terjadi. Hari demi hari Tuhan memulihkan hidupku. Tidak ada cacat mental. Tidak ada idiotisme. Vonis dokter tidak terbukti. Elizabeth tumbuh dgn normal.
Karena kasih dan kemurahan Tuhan yg mendengar seruan doa yg tdk pernah terputus dari kedua orangtuaku, mujizat pun terjadi. Hari demi hari Tuhan memulihkan hidupku. Tidak ada cacat mental. Tidak ada idiotisme. Vonis dokter tidak terbukti. Elizabeth tumbuh dgn normal.
Hingga saat ini, aku merasakan kasih Tuhan tak pernah berkesudahan dlm hidupku, terlebih melalui kasih sayang papa dan mama. Semua karena anugerahNya. All by His grace. Sola Gratia.
Biarlah ini menjadi kesaksian yg hidup; bahwa masih ada harapan di dlm Tuhan, sebab Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Amin.
#grateful #solagratia #ilovemomanddad


Comments
Post a Comment